Kamis, 24 September 2020

Kuota Haji Bertambah, Pengelolaan Haji Harus Diperbaiki

Kuota Haji Bertambah, Pengelolaan Haji Harus Diperbaiki

Foto: MUI menyebut Penggunaan dana haji di luar urusan haji adalah tidak halal. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Jumlah jamaah haji tahun 2017 akan berjumlah 221 ribu orang atau bertambah 52 ribu orang dari jumlah tiga tahun sebelumnya. Kementerian agama (Kemenag) diminta meningkatkan kinerja pengelolaannya agar penambahan peserta tidak diikuti oleh penambahan masalah.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mudjahid berharap penambahan jumlah jamaah haji tahun 2017 nanti tidak diikuti dengan penambahan masalah terkait penyelenggaraan ibadah haji oleh pemerintah Indonesia.

“Jamah haji tahun 2017 M /1438 H nanti berjumlah 221 ribu orang. Ada tambahan sebanyak 52 ribu orang dari jumlah jamaah tiga tahun sebelumnya. Memang Kementerian agama (Kemenag) sudah berpengalaman menangani jamaah dengan jumlah tersebut, sebelum ada pengurangan jumlah kuota haji Indonesia,” ungkap Sodik dalam siaran persnya yang dilansir laman dpr di Jakarta, Minggu (02/7).

Tetapi, Sodik menambahkan, karena sampai tahun 2016 (sebelum ada tambahan jamaah) masih ada beberapa masalah, maka Kemenag harus meningkatkan kinerja pengelolaan hajinya.”Sehingga bertambahnya jamaah tidak menambah masalah, bahkan misi peningkatan mutu pelayanan haji dapat terlaksana,” ujarnya.

Menurut politisi dari Fraksi Partai Gerinda itu, persiapan manajemen haji telah diputuskan dalam pembahasan dan penetapan BPIH (biaya perjalanan ibadah haji) yang merupakan tahapan perencanaan (planning) pengelolaan haji.

Tahapan perencanaan ini harus ditindak lanjuti dengan pengorganisasian (organizing) dan pelaksanaan (actuiting) yang tepat dan pengawasan (controlling) yang ketat.

Dengan bertambahnya jamaah serta berdasarkan evaluasi tahun lalu, menurut Sodik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih sungguh-sungguh oleh Kemenag dalam penyelenggaraan haji tahun 2017 M/1438 H nanti.
Pertama, kesiapan jamaah.
Sesempurna apapun fasilitas dan regulasi jika jamaah tidak disiapkan dengan baik, maka akan selalu menimbulkan masalah apalagi haji merupakan extraordinary event. Maka manasik pola baru yang materi, metode dan frekuensi sudah ditambah, harus dilaksanakan dengan lebih baik agar membentuk jamaah yang lebih siap.
Kedua, kesiapan petugas
Selain kesiapan Jemaah, juga perlu diperhatikan kesiapan petugas. Petugas kloter dan non kloter harus ditatar lebih baik lagi sesuai perencanaan dan anggaran yang telah ditetapkan dalam penetapan BPIH. Petugas yang prioritas adalah pemimpin langsung yakni ketua regu, ketua rombongan, petugas kesehatan, petugas perlindungan dan keamanan, pembimbing ibadah, petugas imigrasi, petugas fasum dan makanan.
Ketiga, penanganan visa
Penanganan visa juga harus terus diperhatikan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Proses pendaftaran, pembuatan pasport harus lebih akurat dan cepat agar proses visa juga lebih cepat. Sebagaimana diketahui tahun lalu ada data jamaah yang beda nama dalam passport. Kasus yang menghebohkan tahun lalu adalah keterlambatan visa. Ia berharap hal seperti itu tidak terulang kembali.
Keempat, pengelompokan jamaah
Pengelompokan jamaah juga diperlukan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Ia berharap agar jamaah suami istri, jamaah satu keluarga, jamaah satu KBIH, jamaah satu kota diupayakan untuk tidak terpisah. Mengingat tahun lalu banyak yang terpisah dan meresahkan.
Kelima, manajemen jadwal embarkasi
Dilanjutkan Sodik, hal lain yang perlu mendapat perhatian khusus adalah terkait manajemen jadwal embarkasi dan keberangkatan. Rencanakan dan pastikan waktu di embarkasi dengan keberangkatan secara layak. Tahun lalu ada jamaah yang diembarkasi hanya 2-4 jam sehingga bagi jamaah lansia dan Jamaah Resti (resiko tinggi) cukup merepotkan.
Selain kelima hal tersebut, dipaparkannya, ada sepuluh hal lainnya yang turut menjadi perhatian Kementerian Agama dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Seperti manajemen jamaah resti dan lansia. Hal ini untuk memastikan tenaga pendamping serta penanganan tindakan darurat. Prioritas pemeriksaan imigrasi (keluar dan masuk arab Saudi) bagi jamaah lansia dan jamaah Resti. Kesiapan maktab sesuai dengan nomor dan jumlah jamaah. Penjelasan tentang berbagai fasilitas dan cara penggunaan fasilitas di pesawat, maktab, fasilitas bis, fasilitas elektrik dan lain-lain. Kasus kebakaran, kasus jamaah yang tidak bisa gunakan bis dan lain-lain karena kurang mantabnya penjelasan waktu manasik dan waktu di maktab bisa dihindari.
Keberadaan dan penandaan fasilitas Indonesia yang eksklusif mencolok, misalnya dengan bendera, ukuran dan warna yang mudah diidentifikasi jamaah. Jumlah posko dan militansi petugas perlindungan dan keamanan khususnya pencari jamaah hilang harus ditingkatkan, baik di Makah, Madinah terutama di Mina.
Kualitas dan kuantitas fasilitas di ARMUNA terutama di Mina harus terus diperbaiki. Misalnya kualitas toilet dan kapasitas tenda agar jamaah tertampung dengan layak. Mengingat pernah ada kasus jamaah harus tidur miring karena tenda tidak cukup.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.