Selasa, 17 Mei 2022

Produk 2014, Pemerintahan Kacau Balau

Produk 2014, Pemerintahan Kacau Balau

Oleh: Don Zakiyamani*

Banner Iklan Swamedium

Banda Aceh, Swamedium.com — Pemerintahan kacau-balau hari ini merupakan hasil 2014, baik legislatif maupun eksekutif serta yudikatif. Ini pembuktian bahwa suara rakyat sangat menentukan masa depan negara secara komunal. Keputusan politik setiap 5 tahun memang sangat terasa hari ini.

Utang negara yang terus bertambah dibarengi tingkat pengangguran signifikan merupakan manifestasi kebijakan yang salah kaprah. Sebagaimana diungkapan diatas bahwa ada dampak besar dari sebuah keputusan yang dianggap kecil dalam pileg dan pilpres.

‘Dosa’ politik yang kita lakukan dimulai ketika kita memilih wakil yang salah dan dilanjutkan dengan Eksekutif yang salah pula. Wakil kita tersandera dengan keputusan parpolnya yang mendukung eksekutif. Wakil rakyat yang harusnya menjadi pengawas berubah fungsi menjadi pengawal pemerintahan.

Praktis hanya Gerindra dan PKS yang masih bisa diharapkan menjalankan fungsinya walaupun secara kuantitas mereka minoritas. Keputusan pemerintah yang merugikan kepentingan nasional tidak bisa diadang oleh Gerindra dan PKS.

Keluarnya PAN dan Golkar dari tubuh Koalisi Merah Putih (KMP) karena tergoda jabatan pemerintahan merupakan pukulan telak bagi konstituen yang ingin wakilnya tetap kritis dan idealis. Memang benar bahwa tidak ada teman sejati dalam politik akan tetapi mengapa lupa bahwa mereka bukan wakil parpol akan tetapi wakil rakyat.

Kacau-balaunya pemerintahan hari ini didukung oleh koalisi parpol yang oportunis. Jokowi seolah sangat bebas menjalankan misi negara-negara kapitalis yang ingin kuasai SDA Indonesia. Hutang yang terus bertambah merupakan indikasi bahwa pemerintahan hari ini dalam cengkraman Asing.

Kita semua tahu Jokowi dalam kampanyenya berjanji akan bersikap professional, tidak ada pembagian kekuasaan. Itulah salah satu janji manisnya yang belakangan bertolak belakang. Pembagiaan kekuasaan bukan hanya dikursi menteri dan pejabat setingkat, Jokowi-JK malah menjadikan Indonesia sebagai ‘anak perusahaan’ dari cina dan Amerika Serikat.

Kekalahan Ahok dalam kompetisi pilkada DKI walaupun didukung parpol penguasa merupakan bukti krisis kepercayaan sedang terjadi terhadap pemerintahan Jokowi. Rasa sesal dan dibarengi rasa sadar mulai bangkit, rakyat mulai paham bahwa Jokowi tidak seperti yang mereka impikan.

Mengulang 2014 tak mungkin dilakukan, kedua rasa itu harus diimplementasikan dimasa mendatang. Masih ada kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk membuang produk salah hasil pilpres 2014. Tahun 2019 menjadi momentum bagi rakyat untuk bangkit dari rasa salah dimasa lalu.

Rakyat Indonesia secara konstitusi punya hak serta kewajiban untuk lebih segera membuang produk 2014 pada tempatnya. Secara konstitusional kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat, bila sangat mencintai negeri ini harusnya tak perlu menanti 2019.

Jangka waktu setahun lebih ini bisa saja Jokowi-JK akan melakukan keputusan yang akan menyandera negeri ini. Sementara melakukan perbaikan sangat mustahil dilakukan dengan mental kepemimpinan yang patuh pada Asing.

Suara-suara yang menginginkan revolusi mulai muncul, suara itu butuh sambutan dari rakyat Indonesia. Perlu percepatan perbaikan keadaan dengan kondisi bangsa Indonesia hari ini, setelah salah memilih produk 2014 yang lalu, sebaiknya rakyat tak salah dalam menghitung perlu tidaknya revolusi.

Bercermin dari pilpres 2014 yang diduga terjadi kecurangan, menunggu 2019 bisa saja menjadi ‘blunder’ rakyat dalam menentukan nasibnya sendiri. Hari ini kita bangsa Indonesia sedang menghuni ‘anak perusahaan’ bukan sebuah negara merdeka dan berdaulat.

Semua keputusan harus disesuaikan dengan perusahaan induk (cina dan USA) sehingga kapanpun bisa terjadi PHK. Hal yang bersifat tekhnis sekalipun harus mendapat restu dari negara adidaya. Kita telah dirampas haknya oleh mereka yang hanya menghabisi SDA kita.

Urgensi dan krusialnya gerakan cepat dan terukur harus didukung rakyat militan, idealis, serta yang percaya bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib bangsa ini bila bangsa ini tak ingin mengubahnya. Siapkah kita mengubah nasib kita sendiri, maukah kita selamanya terjajah oleh mereka, silahkan minta fatwa dari hati kita masing-masing. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita