Kamis, 01 Oktober 2020

Dikenakan Pajak 10%, Ribuan Petani Tebu Akan Geruduk Istana

Dikenakan Pajak 10%, Ribuan Petani Tebu Akan Geruduk Istana

Foto: Petani tebu protes pengenaan pajak 10% oleh Pemerintah. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Ribuan petani tebu asal Malang mengancam akan menggeruduk Istana Negara dalam waktu dekat ini. Penggerudukan ini terkait dikenakannya Pajak Penambahan Nilai (PPN) sebesar 10% kepada petani tebu.

Ketua Umum Pusat Koperasi Petani Tebu Rakyat, Muhammad Hamim mengungkapkan rencana penggerudukan itu di Gedung Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Jakarta, Selasa (4/7) kemarin.

“Kalau mau dibawa ya bisa demo besar,” ujarnya seperti dikutip Aktual.

Menurut Gus Hamim, sapaan akrabnya, PPN yang dikenakan kepada petani tebu sangatlah memberatkan. Bahkan, ia mengatakan, pajak tersebut dapat mendatangkan kerugian besar bagi petani.

Kondisi ini disebut Gus Hamim, membuat para petani menjadi resah dan ingin segera melakukan protes kepada Presiden.
Bahkan, bukan hanya dari Jawa Timur, petani tebu dari daerah lain kemungkinan akan ikut serta.

“Semua (petani tebu asal) Jawa timur, mungkin ada petani tebu Jawa tengah dan Jawa barat juga,” ujarnya.

Meski begitu, secara pribadi, Gus Hamim mengaku lebih mengedepankan adanya dialog dengan pemerintah terlebih dahulu.

Oleh karena itu, ia mendatangi DPP PKB sebagai partai pendukung pemerintah agar membicarakan langsung keresahan petani tebu kepada Presiden.

“Kalau enggak dibendung, ya turun semua. Kita ke gedung PKB itu salah satunya untuk menyampaikan keresahan petani biar ada solusi,” terangnya.

Untuk diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat mengatakan akan mencabut PPN sebesar 10% jika petani tebu masih mengalami kerugian. Namun demikian, kenyataan di lapangan, ungkap Gus Hamim, tidak sesuai dengan janji yang diucapkan Sri Mulyani karena para pedagang masih menekan petani untuk menjual harga yang sudah dipotong PPN sebesar 10% dari harga pasaran.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.