Rabu, 30 September 2020

Sampai Kapan Masyarakat Kecil Harus Menjerit?

Sampai Kapan Masyarakat Kecil Harus Menjerit?

Foto: Ahmad Iskandar, Dosen FE di Universitas Ibnu Chaldun dan Atmajaya. (ist)

Oleh: Ahmad Iskandar*

Jakarta, Swamedium.com – Akhirnya pemerintah buka suara menanggapi keluhan dan jeritan pengusaha, pengusaha ritel dan masyarakat kecil yang saat ramadhan kemarin benar-benar sepi transaksi.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, kondisi yang dirasakan pengusaha ritel dan masyarakat kecil tersebut merupakan imbas pelemahan ekonomi selama tiga tahun terakhir (2014-2016) yang masih terasa hingga kini. Dampaknya menghantam daya beli masyarakat dan merembet ke industri ritel maupun industri lain.

Sri Mulyani menyatakan, realisasi 2006 sebesar 3,02 persen merupakan pencapaian paling rendah dalam satu dekade. Kondisi ini, menurut dia berawal dari kontraksi atau penurunan di sektor pertambangan, dan kemudian berpengaruh ke sektor lainnya.

Namun, menurut Sri Mulyani, pemerintah tidak berpangku tangan. Berbagai upaya akan dilakukan pemerintah untuk mengerek daya beli masyarakat dan menggeliatkan kembali industri di tanah air.

Fokus pemerintah, kata Sri Mulyani menyasar masyarakat berpenghasilan rendah dengan program-program perlindungan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi 10 juta keluarga, sehingga 25 persen bahkan 40 persen masyarakat terbawah tetap terjaga.

Jeritan Masyarakat Kecil

Sebagaimana diketahui, saat ramadhan kemarin penulis melakukan riset kecil-kecilan terhadap pedagang kecil dan warung rumahan.

“Bingung mas puasa ini, tidak ada sama sekali yang belanja,” kata Bu Syamsiar, seorang pedagang rumahan.

Keluhan yang sama diungkapkan Pak Fuji yang memiliki warung kuliner sekelas cafe.

“Krisis mas, dengan merosotnya pembeli penjualan kami nggak bisa nutup cost produksi,” kata Pak Fuji.

Kondisi yang sama penulis rekam setiap berbincang dengan sopir taksi. Mereka mengeluhkan sulitnya memenuhi target setoran.

Keluhan masyarakat kecil tersebut ternyata dialami juga oleh pengusaha ritel.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N.Mandey, bisnis ritel lesu sejak dua tahun terakhir akibat pelemahan daya beli masyarakat.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.