Kamis, 01 Oktober 2020

Jokowi Apresiasi Stabilnya Harga Pangan, INDEF: Beras Saja Masih Impor

Jokowi Apresiasi Stabilnya Harga Pangan, INDEF: Beras Saja Masih Impor

Foto: INDEF mengkritisi kebijakan stabilitasi harga pangan. (Iqlima/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Program Nawacita Presiden Jokowi telah menggelontorkan anggaran sebesar 103,1 triliun di 2017, namun tingginya alokasi anggaran tersebut ternyata belum optimal dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan kebijakan seperti pengalokasian dana yang tidak tepat bukan hanya menyebabkan kerugian tetapi juga kerusakan.

“Prioritas untuk mengejar program ini memakan hampir 50 persen anggaran Kementan, yang menyedot anggaran cukup besar. Tidak hanya melalui kementan, tetapi juga berbagai macam subsidi,” kata Enny pada Konferensi Pers di Kantor INDEF, Jakarta, Senin (10/7).

Menurut Enny, tingginya alokasi anggaran yang menyedot 59,5 persen dari total alokasi anggaran kedaulatan pangan tersebut dinilai belum optimal dalam mewujudkan kedaulatan pangan itu sendiri.

Enny melanjutkan, dalam konteks Padi, Jagung, dan Kedelai (Pajale) saja tren peningkatan anggaran di ketiga komoditas pangan ini tidak merata dan optimal mengakselerasi produksi dan produktivitas.

“Begitu impor jagung ditekan, impor dagingnya ditekan drastis. Harus disubtitusikan oleh gandum. Harga pakan ternak melonjak signifikan. Karena dilakukan secara mendadak, tahun kemarin ini impor jagung tertahan di pelabuhan hampir 500 ribu ton. Apakah kebaikan anggaran tadi terbukti? Beras pun masih impor sangat signifikan,” jelas Enny.

Dengan demikian, kata Enny, klaim pemerintah atas stabilitas harga pangan pada Ramadhan lalu jika dibandingkan dengan tahun lalu justru harga pangan mengalami lonjakan. Harga acuan pemerintah sendiri, menurut INDEF, 17 persen lebih mahal, hal ini terlihat dari turunnya harga beli.

“Harga ketika turun secara logika mestinya meningkatnya daya beli. Tetapi ini harga diklaim turun, daya beli malah turun bahkan pangan mengalami deflasi tetapi justru selama puasa kemarin ritel turun, anjlok jika dibandingkan tahun kemarin,” tandas Enny. (Ima)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.