Selasa, 26 Januari 2021

Perekonomian Lesu, Ancaman PHK Bayangi Berbagai Sektor Industri

Perekonomian Lesu, Ancaman PHK Bayangi Berbagai Sektor Industri

Jakarta, Swamedium.com – Perekonomian Indonesia tak kunjung membaik, sehingga ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus membayangi berbagai sektor industri. Banyak industri yang mengerem produksinya karena permintaan terus menurun.

Banner Iklan Swamedium

Industri tekstil misalnya, dilaporkan mulai mengerem produksi lantaran permintaan yang meredup dibandingkan tahun lalu. Tak hanya itu, industri ritel juga lebih dulu secara terang-terangan mengungkapkan menurunnya penjualan sepanjang semester I 2017.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, ancaman PHK tentu akan dievaluasi oleh pemeirntah. Namun, kalahnya pemain-pemain besar ritel di Indonesia merupakan gejala ekonomi keseluruhan yang bermula dari ketatnya kompetisi dengan pemain ritel lain.

Pernyataan Darmin ini merujuk pada tutupnya gerap 7-Eleven per akhir Juni lalu. “Bisa saja (ancaman (PHK), karena Indomaret, Alfamart itu perkembangannya bukan main. Jadi ya jangan melihat itu sebagai gejala ekonomi keseluruhan. Bisa saja itu gejala persaingan,” kata Darmin di akhir pekan yang dikutip republika.co.id.

Darmin menambahkan, pemerintah perlu melihat lagi kecocokan antara ancaman PHK dengan ketersediaan lapangan kerja. “Harus dilihat betul, ada berapa sih persisnya,” ujar dia.

Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat penjualan produk tekstil di pasar domestik mengalami kelesuan dalam lima tahun terakhir. Puncaknya, kata dia, terjadi pada kurtal kedua 2017 di mana terjadi penurunan 30 persen dibanding kuartal pertama lalu.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan, tahun-tahun sebelumnya permintaan akan produk tekstil meningkat signifikan jelang Idul Fitri. Hal itu secara kasat mata dapat dilihat dari padatnya volume kendaraan yang menuju Pusat Grosir Tanah Abang jelang Ramadhan.

Lebaran terburuk

Menurut Ade, sejak beberapa tahun terakhir peningkatan permintaan itu semakin berkurang. Pada kuartal kedua 2016, di mana terdapat momen Idul Fitri, masih ada kenaikan permintaan produk tekstil sebesar 10 persen. Namun, di kuartal kedua 2017, justru permintaan anjlok sangat dalam ke angka 30 persen.

“Ini Lebaran terburuk selama 30 tahun terakhir. Menyamai angka tahun kemarin saja tidak, tapi malah turun 30 persen,” ujarnya lagi.

Adapun angka penjualan produk tekstil di pasar domestik pada kuartal pertama 2017 tercatat mengalami penurunan sebanyak 3 persen.

Ade memprediksi penurunan itu disebabkan adanya kenaikan harga tarif dasar listrik yang membuat masyarakat mengalihkan dananya untuk keperluan tersebut. Karenanya, dia berharap pemerintah dapat memberikan stimulus pada industri tekstil dengan memberikan kepastian soal harga-harga energi.

Selain itu, Ade juga berharap pemerintah membenahi kebijakan fiskalnya, terutama terkait perpajakan. Sebab, ia memandang selama ini Dirjen Pajak hanya gencar mencari pajak dari industri hulu, tapi tidak ke industri ritel.(*/maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita