Minggu, 25 Juli 2021

Perusahaan Perlu Waspadai Ancaman Boikot Massa

Perusahaan Perlu Waspadai Ancaman Boikot Massa

Jakarta, Swamedium.com – Ancaman boikot membayangi produsen yang tidak peka dengan ‘perasaan’ konsumennya. Meski aksi boikot itu hanya reaksi spontan masyarakat, perusahaan yang mengabaikannya dipastikan kinerjanya bakal terganggu, bahkan bisa bangkrut.

Banner Iklan Swamedium

Para pebisnis dan pemimpin perusahaan harus berhati-hati dalam merespon berbagai isu-isu yang beredar di masyarakat. Tidak sembarangan membuat pernyataan, bahkan sekedar mengomentarinya di media sosial. Sebab, hal yang membangkrutkan perusahaan saat ini, bukan hanya persaingan bisnis semata, tetapi juga aksi boikot dari konsumen.

Tentu kita masih ingat saat produk Sari Roti mendapat boikot dari umat Islam yang hatinya terluka karena pernyataan manajemen PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) yang menyebutkan pihaknya tak terkait aksi pemberian roti gratis saat aksi 212 di akhir tahun lalu.

Lalu ada ajakan memboikot produk buku tulis produksi Sinar Mas Group atau Grab, lantaran pemilik perusahaan ini dituding salah satu sembilan naga alias konglomerat hitam. Terbaru, seruan boikot dari Ormas Muhammadiyah terhadap Starbucks terkait dukungannya dengan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT)

Setelah peristiwa tersebut, sebagaimana dilansir oleh Kontan, produk Sari Roti sempat hilang pamor. Bagaimana kinerjanya? Pendapatan perusahaan ini turun 1,4% dari Rp 610,97 miliar pada kuartal I 2016 menjadi Rp 602,45 miliar di kuartal I-2017.

Meski penurunan kinerja itu dibantah oleh Stephen Orlando, Corporate Communication Nippon Indosari Corpindo. Dia mengklaim, penjualan produk Sari Roti sejauh ini masih baik. Terbukti bisa meraup penjualan hingga Rp 602,45 miliar di tengah maraknya persaingan industri makanan dewasa ini.

Ia optimistis penjualan bisa meningkat 20% tahun ini. Sedangkan manajemen Sinar Mas Group tidak mau berkomentar terkait aksi boikot tersebut. Adapun Grab saat itu langsung meminta maaf.

Pengamat Pemasaran dari Bina Nusantara Asnan Furinto menyatakan, aksi boikot produk hanyalah reaksi spontan dari masyarakat yang sifatnya hanya sementara. Sudah begitu, pasar Indonesia sangat besar. Tapi, produsen harus tetap waspada terhadap berbagai isu yang berkembang di masyarakat.

“Pasar Indonesia ini memang besar. Tapi jika brand tidak peka, bisa beneran diboikot,” terang Asnan.

Aksi boikot merupakan kekuatan masyarakat (people power) di era media sosial saat ini. Kekuatan masyarakat ini menumbuhkan sistem ekonomi berjamaah diantara sesama komunitas atau kelompok masyarakat.

Keputusannya dalam membeli suatu produk tidak hanya mempertimbangkan harga dan kualitas produk, tetapi juga kedekatan emosional hingga kesamaan ideologi. Jadi, produsen yang nekat melawan arus bisa dipastikan akan dibuat bangkrut oleh konsumennya.

Bagaimanapun, perusahaan membutuhkan konsumen. Kalau konsumennya tidak suka, apapun produk yang ditawarkan bakal ditolak atau tidak laku. Kecuali, produknya sangat dibutuhkan (tidak ada penggantinya) dan tidak ada pesaingnya. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita