Jumat, 25 September 2020

Upah Turun, Buruh Petani Jadi Timses Pilkada

Upah Turun, Buruh Petani Jadi Timses Pilkada

Foto: INDEF menyatakan Upah buruh tani tergerus inflasi. (Iqlima/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com!— Upah buruh tani tergerus inflasi. Data yang dikeluarkan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan pada Mei 2017 inflasi mencapai 4,33 persen sedangkan upah buruh tani hanya 4,16 persen yoy.

Hampir di tiap daerah di Indonesia, usia petani rata-rata 45 tahun ke atas. Artinya ada kegagalan dalam menarik tenaga kerja dan modernisasi pertanian.

Ekonom INDEF, Bustanul Arifin mengatakan sektor pertanian tidak lagi menarik bagi angkatan muda. Tahun 2012 penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 35,19 persen dari total tenaga kerja, pada 2016 porsinya tinggal 31,74 persen.

“Upah buruh bisa dibilang sangat besar, sekarang di lapangan cari tenaga kerja petani sulit. Kebanyakan petani jadi tim sukses pilkada,” kata Arifin, di Jakarta, Senin (10/7).

Kesejahteraan petani menurun karena nilai tukar petani yang menurun. Pada Juni 2017 total NTP sebesar 100,53 persen, menurun dari tahun sebelumnya yang berada di angka 101,47 persen.

Arifin juga menegaskan, ketidaksinkronan antara kebijakan pertanian dengan industri juga menjadi faktor dimana banyak masyarakat desa enggan menjadi petani.

“Agriculture policy memang perlu dibenahi, setting pemetaan petani membeli solar dengan harga industri bukan harga berarti kan tidak sinkron. Kenapa petani masih miskin? Masih rendah dibanding Cina. Buruh tani tidak akan pernah kaya karena pertama teknologi, kedua kalau di industri mengikuti pertanian,” tandas Arifin. (Ima)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.