Senin, 21 September 2020

Hersubeno Arief: Ingin Pensiun Dini, Ada Apa Dengan Jenderal Tito?

Hersubeno Arief: Ingin Pensiun Dini, Ada Apa Dengan Jenderal Tito?

Foto: Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (ist)

Oleh : Hersubeno Arief*

Jakarta, Swamedium.com – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Dia ingin pensiun dini dan kemungkinan tidak akan menyelesaikan tugasnya sampai tahun 2022.Tito beralasan pekerjaan sebagai Kapolri membuatnya stress dan ingin menghabiskan waktunya untuk keluarga.

Pernyataan Tito itu disampaikan seusai upacara HUT Bhayangkara ke-71 di Jakarta. Beberapa hari sebelumnya dalam sebuah wawancara di stasiun tv swasta, Tito juga sudah menyampaikan keinginannya untuk pensiun dini.

“Kalau saya menjadi Kapolri lebih dari lima tahun, bisa bosan saya. Lembaga juga bosan.” ujarnya.

Ada beberapa hal yang dapat kita tafsirkan dari pernyataan Tito yang baru setahun menjadi Kapolri tersebut.

Pertama, pangkat, jabatan dengan berbagai fasilitas dan status sosial ternyata memang bukan segala-galanya.

Kedua, beban Kapolri sungguh sangat berat. Ini semakin membenarkan bahwa sebagai lembaga Polri telah ‘over-loaded.’

Ketiga, tekanan politik yang sangat tinggi terhadap Kapolri pribadi, maupun Polri sebagai institusi.

Keempat, sebagai test pasar, sekaligus juga test untuk para ‘stake-holder’.

Pangkat dan jabatan bukan segala-galanya

Dari sudut pandang ini, pilihan sikap Jenderal Tito sangat wajar dan manusiawi. Antara harapan, keinginan dan realita ternyata tak selalu berbanding lurus.

Kebanyakan orang memang ingin mengejar jabatan, kekuasaan, kekayaan dan ketenaran. Itu semua normal-normal saja.

Seperti sebuah gunung yang indah dari kejauhan, banyak orang yang ingin mendakinya dengan bersusah payah. Namun ketika sampai di puncak, ternyata tak seindah yang dibayangkan.

Di tengah perjalanan mereka menemukan kenyataan gunung yang tampak biru atau menghijau dari kejauhan, ternyata botak di sana-sini, karena pepohonan yang banyak ditebang.

Begitu sampai di puncak, terutama gunung yang sangat tinggi, ternyata anginnya bertiup sangat kencang, udaranya sangat dingin, menggigilkan. Tak ada tempat berlindung. “Cuacanya” bisa sangat kejam dan menyebabkan kematian.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.