Selasa, 26 Januari 2021

Tambah Utang, Pemerintah Beralibi Utang Malaysia Masih Lebih Besar

Tambah Utang, Pemerintah Beralibi Utang Malaysia Masih Lebih Besar

Jakarta, Swamedium.com – Janji Presiden Joko Widodo selama kampanye soal tidak akan menambah utang tidak terbukti karena faktanya utang terus bertambah. Bahkan, pemerintah saat ini akan menambah utang untuk menutup defisit dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017.

Banner Iklan Swamedium

Beberapa alibi untuk berutang disebutkan pemerintah, diantaranya Indonesia masuk peringkat negara ‘investment grade’ (layak investasi). Kemudian, utang itu untuk membangun infrastruktur yang selama ini tertinggal dari negara lain dan jumlah utang kita masih lebih kecil dari negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan peringkat ‘invesment grade’ yang dimiliki Indonesia telah menjadi daya tarik sendiri bagi investor untuk menanamkan investasi di sini.

“Ditambah lagi inflasi terkendali, pertumbuhan ekonomi lima pesen. Maka suku bunga (imbal hasil SBN) bisa ditekan turun,” ujarnya di Gedung DPR RI, Jakarta yang dikutip merdeka.com, di awal pekan ini.

Meski begitu, Suahasil mengungkapkan tetap ada risiko dalam penerbitan surat utang pemerintah saat ini. Sebab, kondisi ekonomi global masih bergejolak.

Diakuinya, pemerintah saat ini tengah bersiap menarik utang asing. Sebab, defisit anggaran berpotensi melebar yang berdampak pada sejumlah pos belanja yang mengalami pembengkakan.

Suahasil melanjutkan, utang yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia masih lebih sedikit dibanding beberapa negara tetangga. Saat ini, kata dia, utang pemerintah memiliki rasio 28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Nah, kalau kita lihat negara di sekitar kita Malaysia dan Thailand itu 50 persen sampai 40 persen. Kalau Jepang malah 200 persen dari PDBnya dan Amerika sekitar 100 persen,” ujar dia.

Rasio utang

Dikutip dari berbagai sumber, rasio utang terhadap PDB Malaysia memang lebih tinggi dibanding Indonesia. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, rasio utang Malaysia berada di antara 41,22 persen sampai 54,7 persen.

Lonjakan tertinggi berada pada 2009, di mana pada 2008 rasio utang Malaysia berada pada 41,24 persen, kemudian melonjak menjadi 52,81 persen.

Sementara Indonesia, rasio utang terhadap PDB dalam 10 tahun terakhir cenderung fluktuatif. Rasio tertinggi terjadi pada 2007 mencapai 32,33 persen. Kemudian terus menurun di 2012 menyentuh 22,96 persen, sebelum akhirnya kembali naik lagi hingga saat ini di kisaran 28 persen. (lihat tabel)

Tahun Indonesia Malaysia
2007 32,33 persen 41,22 persen
2008 30,25 persen 41,24 persen
2009 26,48 persen 52,81 persen
2010 24,52 persen 53,51 persen
2011 23,1 persen 54,26 persen
2012 22,96 persen 53,3 persen
2013 24,8 persen 54,7 persen
2014 24,7 persen 52,7 persen
2015 26,9 persen 54,5 persen
2016 27,9 persen 53,2 persen

Suahasil menegaskan utang yang dimiliki oleh pemerintah masih dalam batas aman dan sesuai Undang-Undang yang berlaku. Di mana, saat ini rasio utang Indonesia berada di posisi 28 persen dari total PDB (Produk Domestik Bruto).

“Saat ini kalau total utang kita terhadap PDB kita sekitar 28 persen,” kata Suahasil.

Suahasil mengungkapkan, batas maksimum utang yang boleh dimiliki oleh pemerintah adalah 60 persen dari PDB.

“Nah sekarang bagaimana lihat angka itu aman atau tidak? ketinggian atau kerendahan atau bagaimana? Ada beberapa cara melihatnya pertama dibandingkan dengan ketentuan UU kita mengatakan total utang kita dalam PDB maksimum 60 persen. Nah sekarang kalau 28 persen masih cukup jauh ya,” ujarnya.

Sebagai acuan, Bank Dunia menetapkan rasio utang terhadap PDB yang aman saat berada di kisaran 21 persen sampai 49 persen. Sementara, dana moneter internasional (IMF) menetapkan batas aman adalah 26 persen sampai 58 persen. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita