Selasa, 29 September 2020

Tertarik Investasi Geothermal, Pebisnis Turki Kunjungi Jatim

Tertarik Investasi Geothermal, Pebisnis Turki Kunjungi Jatim

Foto: Sejumlah pebisnis Turki melakukan kunjungan investasi Geothermal di Jatim. (Ari/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com — Sejumlah pebisnis Turki melakukan kunjungan investasi Geothermal di Jatim. Mereka datang ke Jatim dalam rangka untuk investasi Geothermal dalam pengembangan listrik dan energi bagi industri di pulau Jawa khususnya di Jatim.

Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan hasil dari kunjungan pebisnis dari Turki tersebut adalah salah satu perusahaan dari Turki memiliki ketertarikan untuk berinvestasi geothermal di Gunung Arjuno dan Welirang.

“Kami mempunyai pengalaman kedatangan investor Turki yang akan investasi geothermal di Jatim. Saya harap investasi ini bisa dilanjutkan dan ditindaklanjuti,” ujarnya di Surabaya, Kamis (13/7).

Pria yang akrab dipanggil Pakde Karwo menerangkan, terdapat titik-titik yang berpotensi menghasilkan geothermal di beberapa pegunungan di Jatim seperti di Pegunungan Arjuna, Pegunungan Welirang, Gunung Lawu, Gunung Ijen, dan Gunung Argopuro. Potensi yang bisa dihasilkan dari geothermal mencapai 3.200 Megawatt.

Di hadapan Dubes Turki Sander Gurbuz, Pakde Karwo mengatakan, Jatim sudah memiliki hubungan ekonomi perdagangan dengan Turki. Pada tahun 2016, perdagangan Jatim dengan Turki mengalami surplus 22,58 juta dollar AS. Dengan rincian ekspor mencapai 93,50 juta dollar AS dan impor mencapai 70,92 juta dollar AS.

Dalam kinerja perdagangan Jatim-Turki kurun waktu 2013 s.d. Februari 2017, lanjutnya, Jatim hanya mengalami defisit pada tahun 2015 yakni -12,77 juta dollar AS. Sedangkan pada Februari 2017, perdagangan Jatim-Turki surplus 7,71 juta dollar AS.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Prov. Jatim, komoditas utama non migas Jatim yang diekspor ke Turki yakni lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, serat staple buatan, bahan kimia organic, serta kayu dan barang dari kayu.

Sedangkan komoditas utama non migas Jatim yang diimpor dari Turki antara lain bahan kimia anorganik, mesin-mesin/pesawat mekanik, hasil penggilingan tembakau, buah-buahan, serta garam, belerang dan kapur.

Menurutnya, masyarakat Indonesia sejak dulu, sudah dekat dengan Turki. Kerjasama Bilateral Indonesia-Turki sudah terjalin dengan baik. Politik keislaman, kebudayaan, industri dan ekonomi sudah mengenal baik. Untuk itu, diharapkan Turki bisa memperkuat kembali hubungan dengan Indonesia, khususnya Jatim.

Sementara itu, Dubes Turki untuk Indonesia, Mehmet Kadri Sander Gurbuz mendukung pernyataan hubungan baik dua belah pihak di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, budaya, maupun pendidikan. Selain itu, dua negara disamakan dengan kondiai sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dan menerapkan demokrasi.

“Hubungan dan kondisi tersebut menjadikan kedua negara berhubungan dengan tulus, tidak hanya sekedar mencari uang diantara kedua belah pihak,” ujarnya. (Ari)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.