Senin, 16 Mei 2022

Udara Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak di Indonesia

Udara Bersih Jadi Kebutuhan Mendesak di Indonesia

Foto: Roundtable Discussions on Addressing Air Pollution in Indonesia, yang diselenggarakan oleh Clean Air Asia di hotel Pullman, Jakarta. (Rio/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Sebagian besar rakyat Indonesia menganggap polusi udara bukanlah hal yang serius dikarenakan banyak hal. Salah satunya, asumsi masyarakat yang melihat polusi masih dalam taraf tidak berbahaya.

Banner Iklan Swamedium

Hal itu mendorong dilakukannya upaya untuk mengedukasi masyarakat untuk menyadarkan bahaya polusi udara.

Dalam acara ‘Roundtable Discussions on Addressing Air Pollution in Indonesia’, yang diselenggarakan oleh Clean Air Asia di hotel Pullman, Jakarta, Rabu (12/7) disampaikan, Negara memiliki target dalam peningkatan kualitas udara.

Pengendalian kualitas udara itu dibagi ke dalam 2 aspek, yakni Emisi dan Ambien.

Tanggung jawab implementasi pengawasan terhadap emisi kendaraan bermotor ada di dua pihak yakni Pemerintah dan Agen Pemegang Merk (APM). Namun realitanya, saat ini di Indonesia, pengawasan emisi hanya dilakukan untuk transportasi publik, kendaraan pribadi belum menjadi sasaran pengawasan emisi. Hanya sedikit daerah yang sudah mengimplementasikannya.

Adapun kriteria daerah atau kota yang nantinya menjadi prioritas pemantauan Emisi oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) adalah populasi, area, sumber emisi, dan lainnya, sehingga menjadi prioritas dalam aplikasinya setelah dilakukan analisa dan penilaiannya.

Saat ini, emisi diklasifikasikan sebagai polusi dari kendaraan bermotor dan sumber stasioner. Untuk stasioner, sementara ini masih memantau pabrik industri saja, dimana seharusnya hotel, mall, dan pemukiman masih belum menjadi prioritas karena beberapa keterbatasan dari KLHK.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara KLH Fitri Hanwati.

“Revisi PP Nomor 44 tahun 1999 sedang diupayakan untuk baku mutu emisi industri, dan baku mutu emisi alat berat,” ujar Fitri.

Adapun beberapa patameter yang dipantau oleh KLH untuk Emisi ini antara lain; PM10, PM2.5, HC, O3, SO2, NO2, CO2, dan Metrologi yang menghitung dan memantau arah angin, kecepatan angin, temperatur, matahari dan raddiasi matahari.

Menurut Fitri, untuk pemantauan kualitas udara, KLH telah memiliki Main Data Center yang berada di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Di Main Data Center ini, ia mengklaim KLH memiliki alat yang cukup lengkap dalam pemantauan kualitas udara.

“Konsep pemantauan industri terintegrasi kedepannya akan melakukan laporan secara online ke Main Data Center KLH,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fitri juga menyampaikan kualitas udara di Indonesia harus lebih baik, terlebih lagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah Sea Games, sehingga udara yang bersih sudah menjadi kebutuhan yang mendesak.

Sementara Direktur Lingkungan Hidup Bappenas Dr Medrilzam, menyoroti tingginya pertumbuhan populasi penduduk atau urbanisasi. Menurut dia, urbanisasi memiliki peran dalam peningkatan polusi udara. Pasalnya, manusia dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari kebutuhan mobilisasi dengan kendaraan, industri dan faktor lainnya.

Berdasarkan data Bappenas, pertumbuhan populasi penduduk di area urban pada tahun 1950 sebesar 15 persen, tahun 1990 sebesar 30 persen dan di 2010 mencapai 40 persen.

“Populasi di Jakarta akan mencapai 11 juta di 2020 apabila tidak dikontrol,” tukasnya. (rio/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita