Minggu, 20 September 2020

Perppu, Yang Genting Bukan Negara, Tapi Pilpres 2019

Perppu, Yang Genting Bukan Negara, Tapi Pilpres 2019

Foto: Asyari Usman. (ist)

Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Syarat utama untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) ialah adanya “keadaan genting yang memaksa”. Maksudnya adalah, negara menghadapi ancaman serius. Menghadapi masalah yang harus segera ditangani tetapi terhalang oleh UU yang ada tidak bisa digunakan. Perlu ada revisi cepat, tidak bisa menunggu prosedur normal melalui DPR. Karena perlu cepat dan mendesak, dibuatlah Perppu oleh eksekutif.

Dalam konteks yang terjadi sekarang, Presiden Joko Widodo menandatangani Perppu No. 2 Tahun 2017, diumumkan 12 Jui 2017. Perppu ini dijadikan landasan hukum untuk membubarkan ormas-ormas Islam. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah target pertama.

Dari sisi momen, penerbitan Perppu dilakukan setelah dalam 6-7 bulan belakangan ini berlangsung serangkaian aksi damai umat Islam terkait dengan kasus penistaan agama dan pilkada Jakarta. Ada kesan Perppu ini dikeluarkan untuk memburu dan meberangus ormas-ormas yang dipandang mampu menghimpun dukungan besar terhadap aksi-aksi damai.

Aksi-aksi damai itu, kalau dibiarkan berlanjut, mampu membentuk opini tentang apakah pemerintahan Jokowi layak diteruskan ke periode kedua, atau tidak. Ini yang paling dikhawatirkan para pendukung beliau. Karena itu, aksi-aksi serupa harus dipadamkan ruhnya, harus dibubarkan. Ruh aksi-aksi itu adalah sejumlah ormas yang memiliki efektivitas dalam pengorganisasian massa. HTI adalah satu diantaranya.

Kebetulan saja, HTI bisa dijadikan alasan pembubaran. HTI dikatakan anti-Pancasila, anti-NKRI, berideologi transnasional, mau mendirikan negara Islam (khilafah), dlsb. Dengan “alasan lengkap” inilah diterbitkan Perppu 2/2017. Menkumham, Yasonna Laoly, mengatakan bahwa yang akan dibubarkan bukan HTI saja.

Pernyataan Laoly itu merupakan isyarat jelas untuk FPI. Ormas ini sangat efektif menggerakkan massa. Dan, kebetulan juga, FPI melakukan cara-cara yang tak disukai oleh para pelanggan tempat-tempat maksiat, oleh preman, oleh jaringan narkoba, oleh para penganut dan pendukung ajaran sesat, dlsb.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.