Selasa, 17 Mei 2022

World Bank Sebut Utang Indonesia Dalam Posisi Bahaya

World Bank Sebut Utang Indonesia Dalam Posisi Bahaya

Jakarta, Swamedium.com – Pengamat ekonomi-politik Ichsanuddin Noorsy mengatakan Bank Dunia (World Bank) telah menempatkan posisi utang luar negeri Indonenesia di level bahaya. Ini disebabkan fluktuasinya sudah di atas 30 persen, sehingga bisa membuat negara didikte oleh asing.

Banner Iklan Swamedium

Menurut Ichsanuddin Noorsy, jika beban utang luar negeri suatu negara itu fluktuasinya mencapai 30 %, maka dalam level bahaya. Bank dunia menempatkan Indonesia pada level tersebut, dengan fluktuasi beban utang luar negeri sebesar 34,08%.

“Dan, selama negara didekte oleh asing, maka Indonesia sampai 2040 tak akan mampu menghadapi kekuatan asing,” katanya dalam dialektika demokrasi ‘Utang Luar Negeri untuk Siapa?” di Kompleks Parlemen, Jakarta, yang dikutip laman teropongsenayan.

Negara-negara yang memberi pinjaman kepada Indonesia adalah Singapura (58 M dollar AS), Jepang (31 M dollar AS), Belanda (11 M dollar AS), Amerika Serikat dan lain-lain.

Sementara itu, Politisi dari PDIP Maruarat Sirait mengingatkan agar pemerintah lebih realistis dalam menargetkan pertumbuhan ekonomi maupun pajak. Ini untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan utang luar negeri tidak membebani negara.

Pada 2017, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 %, namun realisasinya 5,1 %. Sedangkan penerimaan pajak tidak memenuhi target di level Rp 1.307,6 triliun.

“Harus ada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan target pajak. Memang ekonomi sedang melambat di seluruh dunia, tapi sektor riil ekonomi kecil dan menengah di Indonesia tetap tumbuh dengan baik,” tegas Maruarar.

Menurut dia, seharusnya kenaikan pertumbuhan ekonomi diikuti kenaikan pajak. “Kondisi setiap negara memang berbeda-beda. Namun, Jokowi telah membangun pondasi perekonomian jangka panjang yang kuat dengan membangun berbagai insfrastruktur di seluruh Indonesia,” belanya.

Catatan utang

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dalam twitternya @fadlizon pada 12 Juli mengatakan dalam catatannya, selama 2,5 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, utang Indonesia telah bertambah Rp1.062 triliun.

Pertambahan ini hampir sama dgn pertambahan jmlh utang periode kedua pemerintahan Presiden SBY, yang pada 2009-2014 mencapai Rp1.019 triliun. Artinya, pertumbuhan utang pemerintah saat ini bisa dikatakan luar biasa. Sejak Indonesia merdeka, inilah rekor utang tertinggi.

Pada akhir 2014, kata Fadli, utang kita tercatat masih Rp2.604,93 triliun, tapi pd akhir Mei 2017 lalu, jumlahnya telah menyentuh Rp3.672,33 triliun. Di tengah defisit anggaran yang kian membesar, utang yang jatuh tempo pada 2018 dan 2019 juga cukup besar, yaitu mencapai Rp390 triliun dan Rp420 triliun.

“Jumlah tersebut itu baru menghitung utang jatuh tempo, belum jika kita memperhitungkan pembayaran bunga utang tiap tahun,” paparnya.

Fadli menambahkan sebagai gambaran, bunga yang dibayar pada 2016 sebesar Rp182,8 triliun. Pada 2017 ini, pembayaran bunga dianggarkan sebesar Rp221,2 triliun. “Sayangnya, pemerintah selama ini selalu menutup-nutupi pertumbuhan utang dengan dalih rasionya terhadap PDB masih kurang dari 30 persen,” tuturnya.(maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita