Selasa, 17 Mei 2022

Pemblokiran Telegram Rugikan Komunitas Pengusaha ‘Start-Up’

Pemblokiran Telegram Rugikan Komunitas Pengusaha ‘Start-Up’

Jakarta, Swamedium – Kabar pemblokiran Telegram oleh pemerintahan Jokowi merugikan banyak pihak, termasuk komunitas wirausaha, wirausaha online hingga pebisnis start-up yang banyak melakukan diskusi dan sharing bisnis via Telegram. Keputusan pemerintah ini bertolak belakang dengan semangat membangkitkan wirausaha.

Banner Iklan Swamedium

Diskusi dan Sharing di Group Bisnis via Telegram menjadi salah satu media belajar yang sangat efektif dan berbiaya murah. Dalam grup bisnis yang beranggotakan ratusan pengusaha dan calon pengusaha dari puluhan kota di Indonesia ini, anggota komunitas bisa berinteraksi langsung dengan mentor dan member lain dalam Kuliah Online Pengusaha.

Tak heran dengan diblokirnya Telegram, mereka merasa dirugikan karena potensi bisnis ratusan miliar menjadi hilang. Banyak warga net yang menyuarakan kekecewaan mereka terhadap keputusan Kemenkominfo menutup Telegram karena alasan kanal dalam aplikasi tersebut dianggap mengandung konten berbahaya.

Ada warga net yang menyayangkan pemblokiran Telegram karena selama ini membantu dirinya berjualan online (daring).

Telegram, bagi netizen yang sudah bekerja juga sangat membantu karena grup dapat berisi anggota lebih banyak dari aplikasi mengobrol lainnya.

“Bisa mengirim data kapasitas besar, bisa dibuka di beberapa device dengan mudah tanpa hilang data chat atau file,” kata Pasti Putih, seorang pengguna Telegram seperti diberitakan Kantor Berita Antara.

Berikut ini komentar beragam dari warganet terkait pemblokiran telegram.

“lo mau ganti biaya org yg bisnis menggunakan telegram? Apa tdk ada jalan lain utk menghalau radikalisme,kerjasama dgn telegram,” demikian kicauan akun @jufrilaw.

“Ini kputusan sepihak ah, dikit dikit blokir..hhu…pdhal bnyak faedahnya pak..telegram ini buat kami,” ujar akun isna_retna.

“Saya pake @telegram udh 1th lebih dan itu dipke kerja di account saya ada puluhan grup kerjaan dan itu positif lho @Menkominfo,” tulis akun @tedyferry.

“Intinya gw kurang setuju aja nih sama ulah pemerintah yg mw blokir telegram. Soalnya telegram udah jadi apps kantoran yg cepat dan mudah.” Komentar akun Bang rey.

“Gua sebagai orang haus ilmu pengetahuan, jelas merasa dirugikan, karena gua gabung beberapa komunitas keilmuan yang aktif di Telegram,” tulis akun @dymsokei.

“Kalo terorisnya migrasi dari Telegram ke sosial media lain, gmn? Temans, siapkan lg hp jadul semisal Nokia 3310, siapa tahu bakal berguna,” kata akun @TitikAsa.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengatakan pemerintah sedang belajar untuk menjadi diktator. “Kalo telegram jadi sarang teroris, diblokir. Kenapa perusahaan panci yang dipakai untuk bom panci tidak ditutup,” sindirnya.

Pencipta Telegram sendiri, Pavel Durov, sudah angkat bicara. Ia mempertanyakan masalah pemblokiran yang diklaim tanpa pemberitahuan dan koordinasi. Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara pun sudah membantah klaim itu dalam berita sebelumnya bahwa pihaknya sudah mengirimkan pemberitahuan ke Telegram.

“Kalau Google ada kantor perwakilan di Singapura, Twitter ada Indonesia, kalau Telegram ini komunikasi harus lewat web service mereka. Mereka protes, kok kita tidak diajak bicara tahu-tahu diblokir,” sanggah Chief RA. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita