Sabtu, 26 September 2020

Asyari Usman: Bukan “Natural Selection”, Jokowi Kewalahan Jadi Presiden

Asyari Usman: Bukan “Natural Selection”, Jokowi Kewalahan Jadi Presiden

Foto: Asyari Usman (Facebook Asyari Usman)

Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Mengapa dalam waktu kurang dari tiga tahun ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) begitu banyak melakukan blunder? Mengapa “public relation” beliau sangat buruk? Mengapa Jokowi akhirnya berada di posisi berhadap-hadapan dengan umat Islam, yang berpuncak pada Perppu 2/2017?

Mungkin banyak lagi pertanyaan, tetapi jawabannya singkat saja. Bahwa semua itu terjadi karena, mohon maaf, Jokowi “inexperienced”. Minus pengalaman. Belum memiliki bekal personalitas yang diperlukan oleh seorang presiden.

Dia mudah dekat secara fisik dengan rakyat, tetapi menjadi presiden tidak cukup bermodalkan itu saja. Suka blusukan ke dalam got, parit, pasar becek, dan lain-lain, pastilah akan terlihat merakyat. Mudah diajak berfoto, mudah diajak bersalaman, tidak terlalu protokoler, adalah keinginan semua orang.

Mau duduk di warung tegal adalah pesona yang sangat dikagumi. Berpenampilan sederhana adalah daya tarik yang magnetis. Itulah citra pribadi.

Sayangnya, semua itu hanya berguna untuk mengumpulkan suara. Tidak berguna untuk menjalankan mandat pemilik suara. Jokowi mampu merebut kursi presiden tetapi kewalahan menjadi presiden.

Para pengusung Jokowi memanfaatkan kekaguman rakyat terhadap blusukan, mudah foto bersama, mudah bersalaman dengan khalayak, dan lain-lain, untuk mengantarkan Jokowi ke Istana. Setelah berada di singgasana, realitas yang dihadapi Jokowi menjadi sangat membingungkan dirinya. Beliau “overwhelmed”.

Diagnosa ini sangat menyakitkan sekaligus menyedihkan bagi semua orang. Tetapi, rakyat perlu disadarkan agar di masa depan tidak lagi terjebak perangkap citra pribadi.

Di posisi presiden, Anda menghadapi masalah yang sifatnya nasional. Anda menyusun UU, bukan perda. Anda memutuskan kebijakan yang berdampak ke seluruh rakyat dan ke semua bidang kehidupan. Anda memutuskan kenaikan TDL, tarif pajak, izin operasi usaha multinasional, pinjaman luar negeri, arah kebijakan ekonomi. Anda mengangkat dutabesar yang diincar banyak parpol, dan lain sebagainya.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.