Selasa, 17 Mei 2022

Neno Warisman Tanggapi Kasus Bully yang Marak Terjadi

Neno Warisman Tanggapi Kasus Bully yang Marak Terjadi

Ustadzah Neno Warisman menunjukkan contoh KJP plus saat mengisi acara di Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, Selasa (28/3) sore. (Nael/Swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Kasus bully kembali marak. Seorang mahasiswa Gunadarma yang berkebutuhan khusus diperlakukan dengan semena-mena oleh kawannya. Belum usai kasus itu, di salah satu pusat perbelanjaan, seorang siswi juga dibully rekan-rekannya.

Banner Iklan Swamedium

Neno Warisman, seorang mantan selebritas yang telah hijrah menjadi pedakwah itu memberikan komentarnya terkait terjadinya kasus bully tersebut.

Menurut dia, pelaku bully bukan karena murni kejahatannya, melainkan karena terbentuk oleh pemerintah, keluarga, sekolah maupun lingkungan pertemanan. Ia mengatakan, justru terjadinya perilaku bully ini adalah karena anak-anak merasa tidak bahagia karena tidak didukung untuk menjalani passion-nya.

“Hal yang mendasar, mereka tidak bahagia. Bukan mereka jahat, mereka hanya tidak bahagia. Di rumah tidak bahagia, di sekolah tidak bahagia dan di lingkungan juga tidak bahagia. Karena gak ada minat yang mereka dapatkan. Kalau dia senang, akan nyaman. Kalau nggak, mereka akan mencari kesenangan mereka, salah satunya dengan mem-bully,” ungkap Neno seperti dikutip Warta Pilihan, Selasa (18/7).

Neno juga menjelaskan, akibat ketidakbahagiaan yang dirasakan si pelaku bully, maka ia mencari pelampiasannya, salah satunya dengan melakukan bully.

“Anak menjadi beringas, menjadi tidak punya kerjaan, karena mereka tidak punya pihak dan orang yang mendukung passion mereka. Karena sekolah itu bukan passion utama untuk anak-anak,” ucapnya.

Neno yang saat ini aktif di dunia dakwah, pendidikan dan sosial ini menjelaskan, perlu ada ikhtiar dari seluruh pihak termasuk pemerintah dalam menentukan kebijakan dalam hal pendidikan, kemudian dari lingkungan terkecil, keluarga dimana orang tua mengedukasi anak-anaknya, lalu di lingkungan persekolahan, dan juga lingkungan pertemanan yang akan membentuk pribadi anak-anak.

“Harus ada upaya dari semua pihak, baik dari rumah, sekolah dan lingkungan yang bekerja secara kolaboratif untuk memunculkan bakat anak-anak tersebut dan memberikan peluang kepada dia untuk eksplorasi bakatnya. Di situlah letak kebahagiaan anak, sehingga tidak terjadi lagi soal bullying ini. Karena anak sudah sibuk dengan menjalani passion-nya,” tuturnya.

Neno berpendapat, anak-anak akan menjadi korban dari sistem kehidupan yang buruk jika tidak diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Ia tak menampik kalau buruknya sistem itu justru diciptakan oleh pemerintah, termasuk para pendidiknya di sekolah.

Oleh karena itu, Neno berharap, kasus bully tidak ditangani dengan cara-cara orang dewasa. Karena ia berpandangan, anak-anak bisa melakukan pembullyan itu karena dibentuk dan ditempa oleh lingkungan, udara politik dan juga kondisi masyarakatnya.

“Jangan ditanggapi dengan cara orang dewasa. Mereka anak anak bisa seperti itu karena diajari oleh lingkungan, oleh udara politik, oleh ayah dan ibu pemimpin, oleh masyarakatnya,” tegas Neno.

Lebih jauh Neno memberikan perumpamaan, misalkan aparat penegak hukum yang mengerahkan sejumlah preman untuk menghadapi kelompok masyarakat lain. Hal itu, kata Neno, merupakan pelajaran yang buruk kepada anak-anak dan dewasa.

Menurut Neno, ada suatu pesan tersembunyi, ‘kalau begitu, jadi orang jahat oke kok di negeri ini,’.

“Yang baik malah dianiaya, yang jahat malah dimanja. Itu adalah pesan yang disampaikan ke anak remaja, dan itu berbahaya sekali bagi pendidikan. Anak-anak kita justru lebih cerdas (mencontoh perilaku) daripada kita,” pungkasnya. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita