Selasa, 27 Juli 2021

Sejumlah Fraksi di DPR Jalin Lobi Jelang Penetapan RUU Pemilu

Sejumlah Fraksi di DPR Jalin Lobi Jelang Penetapan RUU Pemilu

Foto: Gedung MPR RI (ilustrasi/ist)

Jakarta, Swamedium.com — Menjelang sidang paripurna DPR, Kamis (20/7) sejumlah fraksi dipastikan masih melakukan lobi-lobi terkait pengesahan RUU Pemilu yang sebelumnya dibahas dalam Pansus RUU Pemilu.

Banner Iklan Swamedium

Salah satu isu krusial yang dibahas adalah angka ambang batas sebuah partai dalam mengajukan calon presiden atau presidential treshold dalam Pilpres 2019 mendatang.

Anggota Pansus RUU Pemilu dari Fraksi Gerindra Nizar Zahro mengatakan saat ini partainya sudah ada kesamaan pandangan dengan PAN dan PKB soal isu krusial RUU Pemilu. Partainya membuka kemungkinan untuk berganti opsi paket lain.

“Bukan melobi, tetapi karena ada kesepahaman Gerindra dengan PAN dan PKB. Jadi lima isu krusial itu ada kesepahaman. Sudah lama sebetulnya Gerindra, PAN, PKS, PKB, Demokrat, ada beberapa titik krusial yang sepaham,” kata Nizar, Rabu (19/7).

Sampai saat ini, partainya memiliki sikap ambang batas capres atau presidential threshold nol persen.

“Bisa jadi kita ikut opsi PKB, misalnya, opsi C. Ambang batas presiden 10-15 persen, ambang batas parlemen 4 persen, dapil magnitude 3-10, kuota hare. Itu yang disampaikan PKB saat pandangan mini fraksi 13 Juli,” tuturnya.

Sementara Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan menyebut dirinya baru saja menemui Ketum PAN yang juga Ketua MPR, Zulkifli Hasan. Lobi dilakukan agar PAN mau ikut ke opsi peniadaan ambang batas pengajuan calon presiden dalam RUU Pemilu, sama seperti Demokrat.

Syarief mengaku Demokrat membentuk koalisi dengan beberapa partai oposisi untuk menghadapi paripurna RUU Pemilu. Koalisi terdiri juga dari PAN, yang merupakan partai pendukung pemerintah.

“Saya bicarakan teman-teman di PAN. Beberapa koalisi. Kita, PAN, mudah mudahan PKB mau, PKS, Gerindra,” ujar Syarief.

Syarief menyebut presidential threshold tak lagi relevan dalam Pemilu Serentak 2019. Ini juga mengacu pada putusan MK.

“Kita lobi-lobilah. Kita sih harapkan apa pandangan Demokrat kan sebaiknya nol persen karena ini dilakukan, pileg, pilpres dilakukan bersamaan. DPD juga bersamaan, DPRD bersamaan,” tutur Syarief.

Sementara partai penguasa, PDIP telah bersepakat dengan Golkar dan Nasdem untuk memilih presidential treshold 20 persen. Meski begitu, PDIP masih berharap PAN dan PKB dapat satu suara dengan mereka.

Alasannya, PAN dan PKB merupakan sesama parpol pendukung pemerintah. Namun kedua parpol tersebut menyatakan masih berkompromi angka presidential threshold tidak 20 persen.

“Pertama, komunikasi tetap kita laksanakan. Mudah-mudahan PAN dan PKB bisa bersama-sama dengan kami karena dua partai itu juga merupakan partai pemerintah,” ujar Bendahara F-PDIP Alex Indra Lukman.

“Kalau hitungannya partai-partai itu konsisten dengan usulannya, maka tentu saja divoting partai pengusung pemerintah akan memenangkan voting tersebut,” imbuh Alex.

Sebelumnya, DPR dan pemerintah sepakat membawa lima paket isu krusial ke sidang paripurna pada 20 Juli. Adapun paket yang akan dibawa adalah:

Paket A
1. Presidential threshold: 20-25 persen
2. Parliamentary threshold: 4 persen
3. Sistem Pemilu: terbuka
4. Dapil magnitude DPR: 3-10
5. Metode konversi suara: sainte lague murni

Paket B
1. Presidential threshold: 0 persen
2. Parliamentary threshold: 4 persen
3. Sistem Pemilu: terbuka
4. Dapil magnitude DPR: 3-10
5. Metode konversi suara: kuota hare

Paket C
1. Presidential threshold: 10-15 persen
2. Parliamentary threshold: 4 persen
3. Sistem Pemilu: terbuka
4. Dapil magnitude DPR: 3-10
5. Metode konversi suara: kuota hare

Paket D
1. Presidential threshold: 10-15 persen
2. Parliamentary threshold: 5 persen
3. Sistem Pemilu: terbuka
4. Dapil magnitude DPR: 3-8
5. Metode konversi suara: sainte lague murni

Paket E
1. Presidential threshold: 20-25 persen
2. Parliamentary threshold: 3,5 persen
3. Sistem Pemilu: terbuka
4. Dapil magnitude DPR: 3-10
5. Metode konversi suara: kuota hare (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita