Kamis, 05 Agustus 2021

Antara Jubah Dan Batik

Antara Jubah Dan Batik

Foto: Wasekjen MUI, KH Tengku Zulkarnain. (ist)

Oleh: Tengku Zulkarnain*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — Saya sebenarnya sangat malas melayani komentar komentar yang diarahkan natizen untuk menghina saya. Bagi saya dihina orang sudah biasa dan tidak terlalu berpengaruh bagi jiwa saya, selama saya dalam kebenaran, sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan Sunnah nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wassallam.

Namun, untuk menghindarkan fitnah yang bersebar, wajiblah saya menjelaskan permasalahan dengan sebisanya.

Bermula dari adanya ungkapan ungkapan yang beredar tentang PENGHINAAN dan Pelecehan JUBAH, SORBAN, JENGGOT, Tasbih, dan tongkat, yang kesemuanya adalah pusaka nabi Agung, maka saya ingin memberikan komentar untuk membela pusaka kanjeng nabi itu. Bukan karena Ingin membela penampilan saya.

Apalagi kemudian, ada postingan foto di mana terlihat dalam foto itu orang orang yang berjubah sedang melaksanakan sholat, Dan Orang berbaju batik sedang sholat. Tapi komentarnya menyebutkan dan membandingkan “lebih baik baju batik untuk sholat, untuk demo”.

Kenapa mesti memberikan komentar begitu. Bukankah lebih baik komentarnya jangan terkesan merendahkan jubah. Dan, bukankah fotonya adalah orang berjubah dan orang pakai memakai baju batik sedang sholat, bukan orang berbaju batik sedang sholat dan orang berjubah sedang demo.
Lalu buat apa komentarnya disebutkan jubah untuk demo? Padahal fotonya orang berjubah sedang SHOLAT?
Saat itu kami berikan komentar :”Lebih baik jubah untuk sholat, daripada batik untuk demo. Lebih baik Jubah untuk demo Penista Agama daripada batik untuk membela Penista Agama”

Di luar dugaan twit itu dianggap sebagai ujaran membenci batik. Apalagi kemudian menjadi “liar” seolah olah saya membenci batik dan membenci pusaka bangsa.

Padahal ungkapan jubah LEBIH BAIK dari batik bukanlah berarti BATIK itu JELEK. Tidak sama sekali.
Dalam Ilmu bahasa di bawah posisi LEBIH BAIK Adalah BAIK, bukan JELEK. ( Isim Tafdhil, atau Comparative Forms). Ini perlu dipahamkan agar jangan berobah jadi “bola liar”

Adapun untuk urusan keutamaan JUBAH dibandingkan pakaian jenis lain, tidaklah pada kapasitasnya saya mengajari para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya yang menganut madzhab Imam Syafii, seperti diri saya dan kawan kawan lainnya. Dan, saya sangat berharap pada banyak ulama aswaja yang mau menjelaskannya pada umat dengan jujur agar umat menjadi tercerahkan dengan Sunnah Nabi dan Ilmu yg Lurus.

Saya bukan pembenci batik. Isteri dan kedua anak anak wanita saya semuanya saya belikan baju baju batik buat pakaian sehari hari mereka, untuk dipakai jika mereka menyambut sesama tamu wanita di dalam rumah kami.

Soal pakai jubah untuk pribadi saya, saya sudah memakainya jauh sebelum saya ke hijrah Jakarta, yakni sekitar Tahun 1990.
Saat itu saya Adalah dosen PNS di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara. Asbab saya memakai jubah putih, setelah seorang Bhiksu Buddha yang kami Islamkan saat perjalanan Khuruj selama 40 hari dakwah ke Thailand, memberikan saya hadiah sebuah jubah putih sambil meletakkan pipinya ke pangkuan saya sambil menangis. Mantan Bhiksu itu Berkata:”Jangan dibubuh pakaian ini lagi Ustadz…. Pakailah pakaian yg saya bagi ini…”
Kebiasaan saya saat itu selalu memakai kain sarung dan baju teluk belanga(koko) setiap harinya saat berdakwah di mana saja.
Kemudian saya pun berjanji pada muallaf Bhiksu itu bahwa saya akan memakainya. Dan, karena janji itulah mulanya, maka saya kemudian memakai jubah putih setiap harinya sampai hari ini sudah 27 tahun lamanya.

Alhamdulillah, sekarang saya punya 7 pasang jubah putih dan tidak punya pakaian lain selain itu di lemari saya. Dan, saya punya 2 Jas musim dingin yang hanya saya pakai saat ke luar negeri di musim salju.

Akhirnya saya tekankan sekali lagi di sini bahwa bagi saya pakai jubah putih adalah lebih baik dari pakai pakaian batik, namun Hal itu bukan berarti pakaian batik itu JELEK atau TIDAK BAIK.
Orang Inggris mengatakan :”this is better than that”, bukan berarti that is bad. It’s really still good” (*)

*Penulis adalah Wasekjen MUI

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita