Senin, 25 Januari 2021

Marak Kasus Perundungan, Begini Kata Pakar Parenting Islam

Marak Kasus Perundungan, Begini Kata Pakar Parenting Islam

Foto: Ilustrasi (Mang Ucuy/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Maraknya kasus kasus perundungan (bullying) di beberapa kota yang melibatkan para kaum terpelajar akhir-akhir ini, pakar parenting Islam Syafii mengatakan, bullying berhubungan erat dengan konsep diri yang buruk.

Banner Iklan Swamedium

Menurut pakar parenting yang juga aktif di Lembaga Kemanusiaan Dompet Dhuafa iti, baik pelaku maupun korban, yang mengizinkan dirinya terdampak oleh bullying (kecuali kelompok disabilitas), biasanya memiliki konsep diri yang buruk.

“Maka, pertama, yang bisa dilakukan orangtua adalah memperbaiki konsep diri anak. Tanamkan pada diri anak sikap menerima diri sendiri dan mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Baik terkait fisik, latar belakang ekonomi, suku, orangtua dan lain-lain,” kata Syafii melalui keterangan persnya yang dikirim oleh Dompet Dhuafa, Sabtu (22/7).

Ia juga mengingatkan, agar para orang tua dapat memberitahu anaknya agar tidak membanding-bandingkan dirinya dengan temannya.

“Pahamkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tugas orangtua menemukan bidang kelebihan anak dan melatihnya sampai menjadi ahli,” tandasnya.

Yang kedua, lanjut Syafii, melatih anak agar memiliki kendali diri yang baik.

“Kendali diri yang baik akan mengontrol anak untuk tidak membalas atau meladeni perilaku bullying temannya,” tuturnya.

Lebih lanjut Syafii menjelaskan konsep perbaikan diri yang ketiga, yakni membangun sistem value pada diri anak. Menurut dia, sistem value adalah sejumlah nilai yg bersumber dri ajaran agama (Islam) untuk dijadikan acuan (tempat bertanya dalam diri) dalam menentukan sikap.

Dalam konteks ini, kata Syafii, apakah produktif mengizinkan diri terdampak oleh bullying? Jika sistem value anak terbangun dengan baik, maka anak akan mampu menentukan sikap terbaik untuk dirinya.

“Peran orangtua terhadap anak yaitu sebagai tempat bertanya dan curhat yang nyaman bagi anak, menjadi motivator yang senantiasa membangkitkan daya juang anak, menjadi pendidik yang menanamkan sistem value kepada anak. Hingga membuat kurikulum pendidikan keluarga di rumah”, ujar Syafii. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita