Selasa, 26 Januari 2021

Bisnis Lesu, Pabrik Tekstil Liburkan Karyawan Lebih Lama

Bisnis Lesu, Pabrik Tekstil Liburkan Karyawan Lebih Lama

Foto: Industri tekstil RI. (Ilustrasi/ist)

Jakarta, Swamedium.com – Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat membantah kabar maraknya penutupan pabrikan tekstil yang terjadi tahun ini. Tetapi, diakuinya banyak pabrik yang mengurangi kapasitas produksinya karena lesunya permintaan.

Banner Iklan Swamedium

Ade memaklumi bila beredar hoax di tengah masyarakat mengenai tutupnya sejumlah pabrikan tekstil. Sebab aktifitas industri tekstil pada Lebaran tahun ini tergolong lebih lesu karena permintaan mengalami penurunan.

“Kabar itu ga benar (pabrik tutup). Tapi saya bisa maklumi kalau kabar hoax itu banyak beredar karena memang banyak pabrik yang libur lebih lama pada Lebaran tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ade.

Banyak pabrikan tekstil yang meliburkan buruhnya mulai dari sepuluh hari sebelum Lebaran hingga sepuluh hari sesudah hari H Lebaran. Akibatnya, terhentinya aktifitas produksi itu menimbulkan berbagai macam persepsi.

“Lebaran tahun tahun sebelumnya itu biasanya pabrik paling hanya diliburkan tiga hari,” ungkapnya.

Penurunan permintaan domestik tekstil paling dirasakan bagi industri pemintalan. Volume produksi barang hasil pemintalan terkena imbas dari melesunya permintaan. Hanya saja, pabrikan tetap mempertahankan kapasitas terpasang.

“Kalau mengurangi volume produksi ya pasti, karena memang permintaan lagi sedikit lesu. Tapi kalau sampai mengurangi kapasitas terpasang ya itu bisa saya pastikan tidak mungkin,” ujar dia.

Bagi pebisnis tekstil, ujar dia, pemangkasan kapasitas berarti sejalan dengan pengurangan tingkat efisiensi. Bila tingkat efisiensi menurun, otomatis hal itu berpengaruh kepada kenaikan biaya produksi.

“Kalau biayanya naik berarti kan harga jual juga naik, jadi ga mungkin pabrik-pabrik langsung mengurangi kapasitas terpasang seperti itu,” ujarnya.

Dia berani memastikan seluruh pabrikan tekstil masih beroperasi dengan mempertahankan kapasitas terpasang. Namun, diakui Ade, dalam setahun terakhir memang ada pabrik tekstil yang terpaksa ditutup, seperti pabrik PT Jaba Garmindo di Majalengka, Jawa Barat. Ada lagi, pabrikan tekstil yang ditutup yakni PT Argo Pantes di Tangerang.

“Tapi itu pun dia tutupnya karena relokasi pabrik ke Jawa Tengah,” ujarnya.

Menurutnya, harga lahan untuk industri di Tangerang mengalami lonjakan yang sangat pesat.
“Tanah di sana sudah terlanjur naiknya begitu mahal. Ya kalau harga tanah di Tangerang udah Rp10 juta per meter persegi kan ya buat apa juga ada pabrik. Mungkin bagi pemiliknya lebih worthed ganti bisnis jualan apartemen daripada operasikan pabrik,” ujar dia.

Relokasi pabrik ke Jawa Tengah itu dinilai lebih masuk akal sebab upah minimum di Jawa Tengah lebih kompetitif bagi komponen biaya produksi industri tekstil.(maida)

Berikut ini klarifikasi dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (Apindo) terkait kabar maraknya pabrik tekstil tutup yang dirilis Bisnis:

1. Pasific Texindo in Tangerang 90.000 spindles, 2.500 workers (Masih beroperasi)
2. Unilon in Bandung 70.000 spindles (Masih beroperasi)
3. Dhanar Mas 250.000 spindles temporary closed since 28th May 2017 (Masih beroperasi, bln maret 2017 masih latih tenaga kerjanya dengan fasilitas Kemenperin)
4. Ricky Putra Globalindo 70.000 spindles ( Masih beroperasi )
5. Micky Surya in Bandung 110.000 spindles (Belum dpt info)
6. Mulia Spindo in Serang 35.000 spindles (Masih beroperasi)

7. Panca Citra Wira Brothers 30.000 spindles and Sugih Brothers 30.000 spindles in Serang officially closed. (Sudah Tutup)
8. Hasasi in Bandung 60.000 spindles (Masih beroperasi)
9. PT. Apac Inti Corpora in Bawen, Central Java 400.000 spindles (Masih beroperasi)
10. Pan Asia in Bandung 60.000 spindles ( Masih beroperasi )
11. World Yamatex in Karawang and Bandung 70.000 spindles (Masih beroperasi)
12. Adetex in Solo 60.000 spindles (Masih beroperasi)
13. Adetex in Bandung 60.000 spindles (Benar pengurangan kapasitas cukup besar)

Pabrik pemintalan yang tutup 1 bulan atau 2 bulan sebelum liburan Idul Fitri:
1. Mercu Prima in Tangerang 80.000 spindles (Masih beroperasi)
2. Batamtex in Ungaran, Central2 Java 100.000 spindles (Diambil alih Duniatex grup)
3. Pisma Putra in Pekalongan, Central Java 60.000 spindles (Masih beroperasi)
4. Indo Panca in Purwakarta, West Java 35.000 spindles (Belum dapat info)
5. Warna Unggul in Purwakarta, West Java 25.000 spindles (Pengurangan kapasitas ttp masih beroperasi)

Pabrik pemintalan yan tutup enam bulan lalu:
1. Bhineka Karya Manunggal (BKM) 60.000 spindles (Sudah Tutup)
3. Argo Pantes in Tangerang 160.000 spindles (Masih beroperasi hanya ada pengurangan kapasitas)
4. Lucky Abadi 80.000 spindles in Cimanggis, Depok (sudah tutup tetapi dialihkan ke Lucky Print Abadi)
5. Tiga Bintang Manunggal 70.000 spindles (Diambil alih oleh Kewalram).

Pabrik pemintalan yang tutup satu tahun lalu:
1. PT. Bintang Agung in Bandung 60.000 spindles officially closed. (Benar sudah tutup)
2. Jonitex in Tangerang 110.000 spindles officially closed.(Benar sudah tutup)
3. Effenditex in Tangerang 35.000 officially closed (Benar sudah tutup)
4. PT. Kalila (Tristex) before PT. Yasunly Tama in Tangerang 60.000 spindles officially closed.
5. PT. Kalila (Tristex) before PT. Panca Harta in Jogyakarta 31.000 spindles officially closed
5. PT. Surakarta Sentosa Sejahtera in Solo, Central Java 60.000 spindles officially closed. (Benar sudah tutup dan sudah mengembalikan permesinan yang mendapatkan bantuan dari Kemenperin)

Sumber: Bisnis.com

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita