Selasa, 26 Januari 2021

Kisruh Beras, Pengamat Sarankan Presiden Tegur Kapolri Dan Mentan

Kisruh Beras, Pengamat Sarankan Presiden Tegur Kapolri Dan Mentan

Jakarta, Swamedium.com – Pengamat Ekonomi Dradjad Wibowo berharap Presiden Jokowi menegur Kapolri dan Menteri Pertanian (Mentan) dalam kasus beras. Sebab, kisruh beras yang menimpa PT Indo Beras Unggul (PT IBU) ini membuat pemerintahan Jokowi terlihat anti petani dan anti perusahaan pertanian.

Banner Iklan Swamedium

Dradjad menyarankan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait polemik kasus beras PT IBU.

“Sebagai alumnus IPB, saya berharap Presiden Jokowi menegur Kapolri dan Mentan dalam kasus beras. Bapak Presiden, kisruh beras ini membuat pemerintahan Bapak jadi terlihat anti petani dan anti perusahaan pertanian,” kata Drajad dalam keterangan tertulis, Selasa (25/7) yang dikutip detik.com.

Apa alasan Dradjad menyarankan hal itu?

“Setelah mempelajari apa yang mereka lakukan, saya harus katakan bahwa bisnis mereka itu merupakan sebuah inovasi tata niaga pertanian yang brilian,” ujar Drajad

Drajdad mengatakan mereka yang belajar ekonomi pertanian/agribisnis paham tata niaga pertanian sering menjadi salah satu titik paling lemah dalam pembangunan pertanian. Bahkan, sering memberi kontribusi negatif terhadap kesejahteraan petani.

“Seringkali petani harus membayar input tani yang terlalu mahal dan/atau menerima harga jual tani yang terlalu murah. Akibatnya, rumus taninya atau bahasa statistiknya indeks nilai tukar petani cenderung jelek bagi petani,” tutur Dradjad.

Menurut Dradjad, indeks nilai tukar petani menjadi jelek karena banyak penyebab, antara lain rantai tata niaga yang terlalu panjang, pemain tata niaga yang eksploitatif terhadap petani, dan sebagainya.

Kembali ke soal PT IBU, menurut Dradjad, perusahaan itu mencari keuntungan dengan bergerak di bisnis hilir beras. Tapi, mereka melakukannya dengan sebuah inovasi tata niaga.
Hasilnya, mereka sanggup membeli dengan harga yang lebih mahal dari petani, dan menjual dengan harga premium ke konsumen.

“Artinya, mereka mampu menciptakan permintaan, dan sekaligus marjin yang cukup besar sebagai imbalan bagi inovasinya. Petani juga diuntungkan, meskipun saya yakin IBU lebih diuntungkan dibanding petani,” kata Dradjad.

Dradjad menambahkan, perusahaan inovator seperti itu seharusnya diberi penghargaan. Kalaupun berbuat salah, seharusnya diberi pembinaan, bukan dihukum.

“Bukan malah dihukum dengan tuduhan-tuduhan yang membuat alumnus pertanian seperti saya bertanya-tanya,” jelas dia. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita