Senin, 18 Januari 2021

Merusakkan Barang Orang Lain, Hukumnya Perlu Diganti Tidak?

Merusakkan Barang Orang Lain, Hukumnya Perlu Diganti Tidak?

Jakarta, Swamedium.com – Dalam kehidupan sosial, baik itu berteman ataupun bertetangga, pinjam-meminjam barang kadang-kadang sulit dihindari. Dalam Islam, tolong-menolong dalam kebaikan memang dianjurkan, tetapi bagaimana bila barang yang dipinjam itu menjadi rusak? Yang pinjam barang wajib mengganti atau tidak?

Banner Iklan Swamedium

Sebagai contoh, jika ada teman atau tetangga meminjam motor, lalu terjadi kecelakaan yang tidak disengaja. Ada kerusakan tidak berat di motor itu. Ketika dikembalikan, pemilik diam saja, tidak minta diperbaiki atau ganti rugi. Apakah yg meminjam harus memberikan ganti rugi?

Sebagaimana dirilis oleh konsultasisyariah.com, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah salah satu istrinya (Aisyah). Tiba-tiba ada istri beliau yang lain (Zainab bintu Jahsy) menyuruh pembantunya untuk mengirim sepiring makanan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Melihat itu, Aisyah marah dan langsung memukul piring yang masih di tangan si pembantu hingga pecah dan berserakan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan, sambil mengatakan,“Ibumu sedang cemburu.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti dengan piring yang ada di rumah Aisyah, sementara piring yang pecah ditinggal. (HR. Ahmad 12027 & Bukhari 5225)

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha memecahkan piring milik Zainab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan piring di rumah Aisyah meskipun ketika itu Zainab, pemilik piring tidak di tempat. Karena pada asalnya, merusakkan barang orang lain, harus diganti.
Bagaimana jika pemiliknya diam?

Pemilik diam, bukan berarti dia ridha. Karena hukum asalnya, siapa yang merusakkan barang orang, dia harus mengganti. Kecuali jika pemilik menyatakan tidak perlu diganti.

Dalam hal ini, terdapat kaidah yang menyatakan,“Satu pernyataan tidak dinisbahkan kepada orang yang diam.”

Ketika pemilik barang diam, bukan berarti dia mengizinkan barangnya dirusak. Karena dia sama sekali tidak menyampaikan seperti itu.

Dr. Muhammad Sidqi al-Burnu menyebutkan contoh penerapan kaidah di atas,
ولو أتلف شخص مال آخر وصاحب المال يشاهد وهو ساكت، لا يكون سكوته إذناً بالإتلاف، بل له أن يضمنه

“Ketika ada orang yang merusak harta orang lain, sementara pemiliknya menyaksikan dan diam saja, maka diamnya tidak menunjukkan bahwa dia mengizinkan agar barangnya dirusak. Namun dia harus ganti rugi.” (al-Wajiz fii Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 205)

Karena itu, ketika pemilik barang diam, orang yang merusak barang tetap harus menggantinya. Meskipun itu terjadi tanpa disengaja. Kecuali jika pemilik barang menyatakan, tidak perlu diganti.(maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita