Minggu, 24 Januari 2021

BKPM Khawatir Dengan Perkembangan Harga Komoditas dan Investasi

BKPM Khawatir Dengan Perkembangan Harga Komoditas dan Investasi

Jakarta, Swamedium.com – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memiliki sejumlah ketakutan terhadap perkembangan ekonomi Indonesia saat ini. Harga komoditas terus melemah dan industri padat modal berkembang lebih cepat dari industri padat karya, sehingga berpotensi semakin memperlemah daya beli masyarakat.

Banner Iklan Swamedium

Lembong mengatakan kekhawatirannya soal pelemahan harga komoditas yang terjadi sejak kuartal II 2017. Pasalnya, hal itu dapat menekan angka investasi di Indonesia.

Dia menjelaskan harga sejumlah komoditas pada tahun lalu hingga kuartal I 2017 terjadi penguatan. Namun, sejak kuartal II harga mulai kembali menunjukkan tren pelemahan.

“Pada kuartal II sudah turun lagi, jadi saya masih khawatir untuk kuartal III dan IV nya,” ucap Lembong yang dikutip merdeka.com.

Selain itu, Lembong juga khawatir dengan keseimbangan antara industri padat modal dan padat karya. Jika industri pada modal jauh lebih tinggi, maka secara otomatis akan menggerus kesejahteraan masyarakat.

“Bisa saja nilai investasi naik terus, tapi bayangkan dunia usaha menggenjot investasi yang tujuannya efisiensi berarti mengurangi tenaga kerja yang diperlukan,” sambung Lembong.

BKPM mencatat total investasi baik melalui Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di tanah air pada kuartal kedua tahun ini mencapai Rp170,7 triliun. Dengan demikian, total investasi yang ditanamkan di tanah air pada paruh kedua tahun ini mencapai Rp336,7 triliun atau 49,6 persen dari target sepanjang tahun ini sebesar Rp678,8 triliun.

Menurut Lembong, peningkatan investasi bukan berarti juga meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat. Bila tidak dilakukan pembenahan, maka bukan tidak mungkin akan tambah memperburuk daya beli masyarakat yang semakin melambat.

“Saya takut itu yang mengubah kondisi konsumen jadi hati-hati dan tidak mau banyak pengeluaran, sehingga muncul angka penjualan ritel yang soft,” papar Lembong.

Kendati demikian, sentimen negatif tentang China yang berkembang di masyarakat tidak mempengaruhi investasi dari China terhadap Indonesia. Terbukti, investasi China ke Indonesia masuk dalam lima besar sepanjang kuartal II 2017, yakni sebesar US$1,3 miliar.

“Investasinya meningkat, kualitasnya juga meningkat, dari kekuatannya di sektor padat modal seperti smelter dan infrastruktur sekarang juga semakin masuk ke sektor padat karya,” jelasnya.

Hal ini, ungkap dia, tak lepas dari partisipasi pemerintah dalam forum Belt and Road Investment di Beijing pada Mei lalu. maida

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita