Rabu, 27 Januari 2021

Tiga Perempuan Berjilbab dalam Kontestasi Pilgub Jatim 2018

Tiga Perempuan Berjilbab dalam Kontestasi Pilgub Jatim 2018

Foto: Tiga perempuan berjilbab dalam kontestasi pilgub Jatim. (ist)

Surabaya, Swamedium.com — Puluhan nama dari berbagai latar belakang dalam bulan-bulan terakhir ini menghiasi pemberitaan bursa Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Timur (Jatim) menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018.

Banner Iklan Swamedium

Sayangnya dari sekian banyak nama yang beredar, keberadaan kandidat perempuan dalam kontestasi Cagub-Cawagub sangatlah minim. Hal ini setidaknya terlihat dari hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) periode Juni 2017.

Dari 24 nama yang muncul dalam survei SSC tersebut hanya ada tiga nama kandidat perempuan yang beredar dalam bursa Cagub-Cawagub. Kebetulan ketiganya perempuan berjilbab. Ketiga kandidat tersebut adalah Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Waketum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf.

Menurut Direktur SSC Mochtar W Oetomo, dalam simulasi 24 kandidat, Tri Rismaharini mendapatkan dukungan publik paling tinggi yakni mencapai 24,1% ada di posisi kedua dari 24 nama kandidat.

Disusul oleh Khofifah Indar Parawansa diposisi ketiga dengan 16,8% dukungan dan Nurhayati Ali Assegaf dengan 0,40% dukungan menempati posisi 13.

Dari hasil survei ini pula diketahui, nama Nurhayati Ali Assegaf, jika menjadi Cawagub, tingkat elektabilitasnya tidak cukup kompetitif.

Nurhayati Ali Assegaf ketika dipertarungkan di bursa Cawagub hanya memperoleh 5.5% dukungan publik dan menempatkannya di posisi ke 7 di antara 24 kandidat Cawagub lainnya. Ini tentu sebuah angka yang tidak kompetitif mengingat dia adalah satu-satunya kandidat perempuan di bursa Cawagub.

“Ditambah dengan pengalamannya sebagai politikus skala nasional dengan menjadi Anggota DPR RI dan sekaligus Waketum Demokrat mestinya Nurhayati bisa memaksimalkan dengan berbagai strategi untuk meraup dukungan yang jauh lebih baik,” ungkap Mochtar yang juga dosen di Universitas Trunojoyo Madura ini.

Lebih lanjut Mochtar mengatakan, minimnya kandidat perempuan dalam bursa Cagub-Cawagub Jatim ini tentu layak mendapat perhatian di tengah upaya serius berbagai pihak dalam memberi ruang bagi perempuan dalam berbagai kontestasi politik.

Dari waktu ke waktu dan dari berbagai gelaran Pilkada secara kuantitatif suara perempuan selalu lebih banyak dibanding suara laki-laki. Artinya suara perempuan selalu menjadi suara yang menentukan bagi setiap gelaran Pilkada.

“Mestinya ini bisa menjadi momentum strategik bagi setiap kandidat perempuan untuk memaksimalkan upaya strategiknya dalam meraup suara perempuan,” pungkas Mochtar mengakhiri pembicaraan. (*/ls)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita