Rabu, 27 Januari 2021

Liga Krisis Indonesia, Garam Ada di Puncak Klasemen

Liga Krisis Indonesia, Garam Ada di Puncak Klasemen

Foto: Asyari Usman. (ist)

Oleh: Asyari Usman*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — “Jangan nyinyir, ke depan negera ini akan lebih baik,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan rapat kerja nasional bupati dan walikota se-Indonesia di Malang, belum lama ini. Jokowi juga mengutip hasil survei Gullup World Poll yang menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, berada di angka 80 persen.

Pak Jokowi bisa jadi benar. Seharusnya, dari hari ke hari situasi dan kondisi Indonesia semakin baik. Survei lembaga internasional itu patas dihargai. Dan, rakyat pun semestinya menunjukkan optimisme.

Hanya saja, kondisi semakin baik ke depan itu ternyata harus melewati rangkaian krisis. Berbagai macam krisis. Sedihnya, krisis-krisis itu seharusnya tidak terjadi di Indonesia.

Sangat memalukan sebetulnya untuk menceritakan hal-hal yang dikrisiskan di bumi yang subur dan terbentang luas ini. Cabai merah, cabai rawit, tomat, bawang putih, bawang merah, dan sekarang garam. Masa iya benda-benda ini menjadi sumber krisis, dan repetitif pula. Bolak-balik terjadi. Sekarang, untuk pertama kali dalam sejarah, garam masuk dalam “Liga Krisis”.

Hari-hari ini, papan atas Liga Krisis sedang ditempati oleh garam. Di mana-mana orang berbincang tentang garam. Tentang kelangkaannya, dan tentang harganya yang mengalami kenikan rata-rata 450% dalam waktu relatif singkat, hanya dalam 6-7 bulan belakangan. Dulu per kilo rata-rata Rp1,250 (harga jual eceran), sekarang mencapai antara Rp6,500 (di Sumatra). Di Jawa naik dari Rp700 ke angka Rp4,000.

Untuk mengatasi kriris garam yang tampaknya akan memicu lampu merah, pemrintah baru saja membuka keran impor. Diberikan mandat kepada 35 perusahaan untuk membeli garam dari luar negeri.

Saya baru saja berbincang dengan seorang penyalur garam di Padang yang sudah malang melintang dalam bisnis komoditas ini. Satu kesimpulan dari dia: pemerintah tidak memahami hal-ihwal penggunaan garam di Indonesia. Alias, anggap enteng soal garam.

Jadi, bagaimana Anda bisa mengklaim bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik ke depan kalau komoditas-komoditas dasar saja belum bisa Anda kendalikan? Dan, yang masuk di Liga Krisis itu adalah barang-barang yang tak pantas diberitakan langka atau hilang di pasar.

Mudah-mudahan saja krisis garam saat ini tidak akan disusul (lagi) oleh krisis-krisis lain yang berputar-putar diantara keperluan dapur rakyat.

Selamat kepada Presiden Joko Widodo atas keberhasilan menempati urutan tertinggi di liga pemerintahan internasional yang paling dipercaya rakyatnya. All the Best. (*)

*Penulis adalah wartawan senior

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita