Minggu, 24 Januari 2021

Nilai Subsidi Rakyat Miskin Indonesia Lebih Kecil dari Sapi di Jerman

Nilai Subsidi Rakyat Miskin Indonesia Lebih Kecil dari Sapi di Jerman

Jakarta, Swamedium.com – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Achmad Hafisz Thohir meminta pemerintah fokus pada program pengentasan kemiskinan daripada program yang tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat miskin. Sebab, subsidi pemerintah kepada rakyat miskin masih kalah dari subsidi yang diberikan pemerintah Jerman untuk sapi.

Banner Iklan Swamedium

Achmad Hafisz mengaku prihatin dengan kondisi rakyat miskin Indonesia saat ini. Betapa tidak, lanjut dia, rakyat miskin yang harusnya diperhatikan pemerintah justru mereka harus berjuang sendirian alias tidak disubsidi di tengah berbagai keterbatasan akses maupun sumber.

“Pendapatan rakyat miskin sekali itu menurut BPS adalah 11 ribu Rupiah/hari atau kurang dari 1 US dollar/hari. Pendapatan rakyat miskin ini bukan subsidi namun penghasilan riil mereka,” ungkap mantan Ketua Komisi VI DPR di awal pekan ini.

Di Jerman, lanjut dia, pemerintahannya memberikan subsidi untuk seekor sapi sebesar 2 dollar/hari/sapi.

“Jadi rakyat miskin saja tidak kita subsidi. Sedangkan sapi di Jerman di subsidi 2 dolar. Dan penghasilan rakyat miskin kita hanya kurang dari 1 dollar ini jauh sekali dengan biaya hidup seekor sapi yang diatas 2 dollar/hari,” sindirnya.

Menurut dia, daripada memikirkan program-program yang tak bersentuhan langsung dengan rakyat miskin, sebaiknya pemerintah fokus mengentaskan kemiskinan.

“Persoalan ini yang harus kita atasi dulu sebelum berpikir muluk-muluk untuk kesejahteraan rakyat,” tegas politisi PAN itu.

Diungkapkannya, ada beberapa kriteria masyarakat miskin yang masih ada di Indonesia yang kehidupannya memprihatinkan berdasarkan standar Badan Pusat Statistik (BPS).

Pertama, luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

Kedua, tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
Ketiga, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

Keempat, sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.

Kelima, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah.

Keenan, hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.

Ketujuh, hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

Kedelapan, hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari.

Kesembilan, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik.

Kesepuluh, sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.

Kesebelas, pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.

Keduabelas, tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.(maida)

Sumber: teropongsenayan

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita