Rabu, 27 Januari 2021

Terjadi Perlambatan Ekonomi, Bisnis Sewa Perkantoran di Jakarta Paceklik

Terjadi Perlambatan Ekonomi, Bisnis Sewa Perkantoran di Jakarta Paceklik

Jakarta, Swamedium.com – Masa paceklik bisnis sewa perkantoran di DKI Jakarta terus berlanjut karena adanya pelambatan ekonomi dan suplai yang berlebih. Tingkat kekosongan gedung untuk kawasan Central Business District (CBD) selama semester pertama 2017 mencapai 18,4% dan non-CBD sebesar 22,7%.

Banner Iklan Swamedium

Bila dibandingkan dengan catatan enam bulan pertama tahun lalu, tingkat kekosongan gedung ini naik dari 15,7% pada semester 1/2016 menjadi 18,4% pada semester 1/2017.

Seperti diketahui, total pasokan gedung perkantoran di kawasan CBD Jakarta pada semester I-2017 mencapai 270 ribu m2, sementara penyerapan ruang kantor tidak sampai 63 ribu m2 atau hanya sekitar sepertiganya.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berharap pemerintah lebih peka akan persoalan yang terjadi sekarang.

Menurut Lana, fenomena gedung perkantoran yang sepi penyewa ini hampir sama dengan yang terjadi pada Pasar Glodok, WTC Mangga Dua dan Roxy Square. “Harus diakui sekarang adalah bagian dari perlambatan ekonomi,” tutur dia yang dikutip Detikcom, di akhir pekan ini.

Director Head of Research and Consultants Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan tingginya tingkat kekosongan terhadap sektor perkantoran di daerah Jakarta karena suplai melimpah, sedangkan angka penyerapannya justru relatif kecil. Untuk kawasan Central Business District (CBD) tingkat kekosongan mencapai 18,4% dan non-CBD sebesar 22,7%.

Menurut Anton Sitorus, semakin meningkatnya angka kekosongan kantor di Jakarta bisa berdampak baik, khususnya kepada perusahaan yang sedang mencoba mencari kantor karena akan lebih mudah untuk mendapatkan ruang kantor. Selain itu, angka penawaran harga sewa juga akan bisa semakin menurun.

“Artinya kemungkinan untuk mendapatkan ruang kantor gampang dan bargain (kesempatan menawar) untuk sewa juga makin tinggi,” ujarnya dalam acara media briefing Savills Indonesia.

Anton memperkirakan jumlah angka kekosongan kantor di Jakarta akan terus meningkat hingga 2020. Di mana peningkatannya diprediksi mencapai 25% untuk kawasan CBD (2020) dan 30% untuk kawasan non-CBD (2018).

“Vacancy akan terus naik hingga 25% sampai 2020. Di tahun 2018 kita juga masih perkirakan vacancy (tingkat kekosongan) di daerah CBD akan terus meningkat. Sampai 2020 memang vacancy makin tinggi. Tingkat kekosongan di daerah non-CBD di 2018 hampir 30%,” kata Anton.

Dari catatan konsultan properti Savills Indonesia, angka kekosongan di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta naik dari 15,7% semester pertama tahun lalu menjadi 18,4% pada semester pertama tahun ini.

Anton menambahkan, gedung perkantoran yang paling tinggi tingkat kekosongannya adalah gedung dengan jenis grade A sebesar 27%. Diikuti oleh gedung perkantoran grade C yaitu sebesar 13,6% dan grade B sebesar 11,7%.

Sementara tingkat kekosongan gedung perkantoran grade premium mengalami sedikit penurunan dari 17% ke 16,6%. Hal tersebut didukung oleh adanya kenaikan serapan pada semester I-2017.Wilayah tersebut mencakup Jalan Sudirman, Thamrin, Mega Kuningan, dan Jendral Gatot Subroto.

Sedangkan di area non-CBD, daerah dengan tingkat kekosongan tertinggi berlokasi di Jakarta Utara dengan sebesar 32,8%. Kemudian disusul oleh Jakarta Selatan sebesar 22,41%.

Lalu Jakarta Pusat dengan 21,6% dan Jakarta Barat 20,8%. Sementara untuk daerah Jakarta Timur tidak terlalu mengalami perubahan dengan 8,7%.

“Jakarta Timur enggak banyak berubah dan yang paling kecil karena memang suplai di sana enggak banyak,” kata dia. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita