Rabu, 20 Januari 2021

Ekonom Bantah Tren Belanja Online Penyebab Penjualan Ritel Anjlok

Ekonom Bantah Tren Belanja Online Penyebab Penjualan Ritel Anjlok

Jakarta, Swamedium.com – Berkembangnya tren belanja online dituding menjadi penyebab lesunya penjualan di bisnis ritel. Ekonom dari CORE Indonesia Muhammad Faisal mengatakan jika e-commerce penyebabnya, maka seharusnya yang terpengaruh hanya sisi hilirnya saja, yakni toko-toko ritel.

Banner Iklan Swamedium

Namun, yang terjadi saat ini, industri di hulu juga terdampak. Artinya, bukan hanya pertokoan dan mal-mal yang mengalami penurunan penjualan, tetapi banyak pula pabrik-pabrik pengolahan yang menahan produksi. Sejumlah asosiasi industri, menurut CORE, sudah melaporkan adanya penurunan produksi antara lain tekstil, makanan dan minuman, otomotif, hingga peralatan elektronik.

“Artinya, bukan hanya cara membelinya yang bergeser, tetapi permintaan juga melemah, sehingga produksi pun terpaksa ditahan, bahkan dikurangi,” jelas Faisal melalui keterangan tertulisnya, Minggu (30/7).

Faisal menjelaskan penurunan penjualan di banyak sektor memang bukan hanya disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat, apalagi oleh golongan berpendapatan bawah yang memang daya belinya rendah.

Dia menyebutkan faktor lain yang justru memiliki peran besar dalam penurunan penjualan tersebut adalah berubahnya pola belanja golongan kelas. Ia melihat ada gejala menahan belanja atau delayed purchase di golongan menengah tersebut.

Faisal kemudian merujuk pada data pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan selama sembilan bulan terakhir yang menunjukkan peningkatan. Namun peningkatan DPK ini terjadi pada simpanan jangka panjang (deposito) dan giro.

Sementara, DPK dalam bentuk tabungan jangka pendek justru melambat. “Artinya, mereka yang menyimpan uang bank cenderung untuk semakin membatasi belanjanya dalam waktu dekat.”

Beri Stimulus

Faisal menyarankan agar pemerintah memberikan stimulus untuk mendongkrak daya beli masyarakat berupa penjagaan laju inflasi, penciptaan kesempatan kerja, dan transmisi kebijakan moneter ke riil. ketiga stimulus tersebut diyakininya bisa jadi cara jitu untuk mendongkrak daya beli karena bersifat jangka pendek.

“Yang pertama inflasi, harus ditahan sampai kondisi ekonomi lebih baik dan daya beli masyarakat lebih baik,” ujar Faisal yang dikutip CNNIndonesia.com.

Cara kedua adalah lewat penciptaan lapangan kerja. Cara ini disebutnya dapat menaikkan tingkat pendapatan masyarakat sehingga turut mengerek daya beli. Adapun hal ini, dapat dilakukan secara langsung dari proyek-proyek pemerintah, ataupun secara tidak langsung melalui investasi.

Selanjutnya, transmisi kebijakan moneter ke riil. “Caranya yaitu dengan mengatasi kebuntuan penyaluran kredit perbankan ke sektor riil (yang membutuhkan modal),” tutur Faisal. (maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita