Senin, 18 Januari 2021

Ini Alasan Penjahat Siber Cina Memilih Indonesia Markas Operasi

Ini Alasan Penjahat Siber Cina Memilih Indonesia Markas Operasi

Foto: Para penjahat siber asal China ini memilih Indonesia sebagai markas operasi, karena disini serba murah dan mudah. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Sebanyak 148 orang penjahat siber berkewarganegaraan China dibekuk Tim Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Polri di tiga kota. Indonesia hanya menjadi markas operasi sindikat mereka, sementara korban berada di China.

Banner Iklan Swamedium

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono, menyatakan Kepolisian RI menyesalkan ulah WNA asal China yang kerap melakukan aksi kejahatan mereka di Indonesia

Menurut Argo, saat ini pihaknya masih terus menelusuri jaringan itu. Menurut Argo, Indonesia dipilih sebagai markas karena disini semua serba mudah dan murah.

“Mereka seenaknya melakukan kejahatan di Indonesia. Kami akan telusuri terus jaringan ini. Mereka memilih melakukan aksinya di sini karena semuanya serba mudah dan murah,” kata Argo.

Para pelaku itu, kata Argo, masuk ke Indonesia dengan mudah. Selain itu, biaya internet juga murah sehingga mereka sangat leluasa mempraktikkan aksi kejahatan itu.

“Mereka ini direkrut untuk melakukan penipuan ke Indonesia. Paspor mereka juga sedang kami cari, termasuk pemasok para pelaku ini,” katanya.

Seperti dilansir wartakota, pihak Kepolisian akan bekerjasama dengan pihak Imigrasi dan Pemerintah China. Para pelaku yang sudah tertangkap akan di deportasi.

“Proses hukum kami serahkan ke China karena korban dan pelaku ada di sana,” katanya.

Modus

Para pelaku sindikat kejahatan itu melancarkan praktik kejahatan mereka dengan sasaran korban antara lain para pejabat China yang sedang menghadapi masalah hukum.

Tahap pertama, salah satu pelaku mencari sasaran korban, yakni pejabat China yang tersangkut masalah hukum.

Setelah mendapatkan database korban, salah satu pelaku menghubunginya. Pelaku hanya memberikan isu atau kabar bahwa korban tersangkut masalah hukum.

Kemudian, tahap kedua, pelaku lainnya, menghubungi korban mengaku sebagai polisi, hakim, atau jaksa.

Pada tahap ketiga, pelaku lainnya lagi menghubungi korban, bahwa dirinya bisa meringankan kasus yang sedang menyangkut korban.

Para pelaku yang sudah tertangkap mengaku sudah beroperasi sejak Januari 2017. Uang kejahatan yang sudah terkumpul berkisar Rp 5,9 triliun. (*/d)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita