Minggu, 24 Januari 2021

Pasokan Langka, Industri Pengguna Garam Mulai Setop Produksi

Pasokan Langka, Industri Pengguna Garam Mulai Setop Produksi

Jakarta, Swamedium.com – Kelangkaan garam tidak hanya merepotkan ibu rumah tangga, tetapi juga industri terkait. Beberapa industri pengolahan dan pengguna garam terpaksa menghentikan kegiatan produksi, bahkan diantaranya telah merumahkan para pekerja.

Banner Iklan Swamedium

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara mengatakan, saat ini industri kecil dan menengah (IKM) pengolahan garam konsumsi di sejumlah daerah tidak beroperasi. Bahkan ada yang mulai menghentikan produksi garam konsumsinya sejak awal tahun ini.

“Sudah (setop produksi), khusus untuk garam konsumsi mereka sudah setop produksi. Malah ada yang sudah dari Januari setop produksi. Di daerah Cirebon, Indramayu sudah 32 IKM garam setop produksi,” ujarnya yang dikutip Liputan6.com, Selasa (1/7).

Selain IKM, industri pengolahan garam konsumsi skala besar juga mulai menghentikan produksi. Dampak dari penghentian produksi ini, lanjut Cucu, industri tersebut juga sementara merumahkan para karyawannya.

“Yang besar seperti PT Budiono di Madura sudah tutup produksi bahkan kalau tidak salah sampai merumahkan karyawan. PT Susanti juga merumahkan karyawan. Ini efeknya luar biasa pada pengangguran,” kata dia.

Menurut Cucu, dengan kondisi seperti ini wajar jika saat ini garam konsumsi mulai langka dan harganya melonjak tinggi. “Mereka bahan bakunya dari lokal, jadi karena tidak ada ketersediaan bahan baku. Jadi wajar kalau garam (konsumsi) sangat langka, sudah langka dan mahal,” lanjut dia.

Nasib hampir serupa juga dialami oleh industri pengguna garam, seperti industri tekstil dan pengawetan ikan. Saat ini stok bahan baku garam di industri-industri tersebut mulai menipis hingga ada yang menutup usahanya.‎

“Industri tekstil di Jawa Barat sekarang mereka menjerit. Untuk industri pengasinan saja sudah pada tutup, ikan kalau tanpa diasinkan bisa busuk. Terakhir dari Indramayu 2 ton (ikan) busuk karena tidak ada garam. Rata-rata sudah setop produksi,” tandas dia.

Sebelumnya pada Jumat 28 Juli, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkap penyebab meroketnya harga garam yang terjadi belakangan ini. Ia pun menginstruksikan impor garam untuk mengatasinya.

Indonesia sudah sejak lama impor garam. Dalam sebulan, garam impor yang masuk ke Tanah Air bisa mencapai 100.000-300.000 ton yang berasal dari Australia, India, China, hingga Jerman.

Menurut mantan Dirut PT Garam, Usman Perdanakusuma, agar masalah ini tak terulang lagi tahun depan dan seterusnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pemerintah.

Pertama, PT Garam harus punya gudang berteknologi canggih yang bisa menyimpan minimal 100.000-ton garam untuk stok satu tahun ke depan. Sehingga, tidak terjadi kelangkaan garam saat terjadi anomali cuaca seperti sekarang.

Kedua, PT Garam harus hadir di daerah-daerah yang curah hujannya rendah seperti di NTT dan NTB. Pemerintah melalui PT Garam harus turun dengan sistem inti plasma dan memastikan membeli garam hasil produksi rakyat.

Kehadiran PT Garam ke daerah-daerah tersebut sangat penting agar petani garam di sana kembali berproduksi.

“PT Garam harus menjadi pionir agar orang-orang yang punya tambak garam semangat produksi karena garamnya pasti dibeli. Di sinilah peran pemerintah melalui PT Garam menerapkan inti plasma,” kata Usman.

Selain itu, Usman menyarankan pemerintah mengaudit kebutuhan garam industri yang dipasok dari impor minimal 2 juta ton per tahun. Untuk audit ini, menurut Usman, Kementerian Kelautan dan Perikanan membentuk satgas yang melibatkan bea cukai, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan.

“Apakah betul membutuhkan garam industri sampai 2 juta ton, apakah kadar NaCL cukup di bawah 97%, kenapa harus impor,” terang Usman.

Untuk membatasi laju impor garam, maka pemerintah harus menyiapkan lahan antara 5.000 sampai 10.000 hektar. “Kalau ada politcal will dari pemerintah, lahan itu tak sulit,” tutur Usman.(maida)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita