Minggu, 24 Januari 2021

Penjahat Siber Cina Raup Rp6 Triliun dari Operasi di Indonesia

Penjahat Siber Cina Raup Rp6 Triliun dari Operasi di Indonesia

Foto: Hampir satu tahun penjahat siber asal China ini beroperasi di Indonesia, mereka berhasil meraup uang sebanyak Rp 6 triliun. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Tim Satgas Khusus Bareskrim Mabes Polri berhasil membongkar sindikat siber lintas negara. Sebanyak 152 pelaku yang berkewarganegaraan Cina dan Taiwan dibekuk di tiga kota berbeda. Selama operasi mereka meraup uang kejahatan Rp6 triliun.

Banner Iklan Swamedium

Penangkapan terbesar berada di Surabaya dengan 93 WNA, 81 orang asal Cina dan 12 dari Taiwan. Dari Bali, ada 31 orang yang terdiri dari 17 warga asal Cina, 10 orang warga Taiwan. Sementara di Jakarta sebanyak 28 orang.

Wakil Satgas Kombes Hery Heriawan menyebutkan para pelaku sudah beroperasi hampir satu tahun di Indonesia. Uang yang diraup triliunan rupiah.

“Itu total kerugian selama 1 tahun saja untuk 3 tempat kejadian perkara (Jakarta, Surabaya, Bali) kerugian mencapai Rp6 triliun, itu sudah dirupiahkan,” ujar Kombes Hery Heriawan.

Selain di Indonesia, kata Hery, para pelaku juga tersebar di sejumlah negara ASEAN. Mereka melancarkan aksi kejahatan di Thailand, Kamboja, dan Filipina.

“Kalau untuk seluruhnya itu mencapai Rp26 triliun,” katanya.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Hendy F Kurniawan menjelaskan, pelaku Cyber Crime berpura-pura sebagai petugas kepolisian dan juga kejaksaan. Korban merasa takut karena diancam akan membeberkan kasusnya hingga sampai ke pengadilan. Sehingga, korban mentransfer sejumlah uang ke para pelaku.

“Jadi korbannya itu mereka sudah punya datanya, mereka dapat dari pelaku yang di sana. Lalu diinformasikan di sini, di Indonesia. Nanti dicari korban yang tengah tersangkut hukum dan bisa diperdaya. Ada yang bisa kirim satu korban sampai Rp 100 juta, Rp 200 juta,” katanya seperti dikutip Merdeka.

Ketua Tim Penindakan Satgasus Mabes Polri Wilayah Bali, Kombes Pol Turnagogo Sihombing mengatakan, setiap pelaku digaji sekitar Rp 20 juta per bulan.

“Keuntungan mereka dalam satu tahun bisa mencapai Rp20 triliun,” terangnya di Denpasar, Minggu (30/7).

“Diduga mereka melakukan cyber lintas negara,” kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya, AKBP Didik Sugiaryo di lokasi, Sabtu (29/7).

Dugaan polisi, mereka melakukan penipuan terhadap warganya yang berada di China. Itu terlihat dari identifikasi peralatan yang digunakan. Mereka berpura-pura menjadi polisi dan mengancam korbannya. Diduga, pelaku utama berada di Cina.

Direktur Tindak Pidana Cyber Crime Bareskrim Pol Brigjen ‎Fadhil Imran menuturkan sepak terjang jaringan ini mirip dengan dua kelompok internasional lainnya seperti Nigerian Interprise dan kelompok IS Eropa seperti Bulgaria dan Rumania.

“Yang sering melakukan penipuan tiga garis besar, Nigering interprise, kelompok Is Urope Eropa Timur yang sering melakukan skining, kemudian kelompok telekomunication proud ini yang dari Tiongkok dan Thaiwan,” kata Fadhil di Polda Metro Jaya, Senin (31/7).

Mereka memilih Indonesia sebagai markas bukan tanpa alasan. Kondisi geografis Indonesia yang sangat luas, membuat pelaku berpikir dapat dengan leluasa melakukan kejahatannya hingga sulit dideteksi polisi.

“Kenapa dipilih Indonesia, jadi menurut informasi yang digali dari tersangka, ini di Indonesia mudah untuk bersembunyi. Karena lokasinya luas, geografisnya luas. Kalau di daerahnya sana (Cina), mudah teridentifikasi,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya. (*/d)

Foto: Hampir satu tahun penjahat siber asal China ini beroperasi di Indonesia, mereka berhasil meraup uang sebanyak Rp 6 triliun. (ist)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita