Thursday, 25 April 2019

Kopi, Menjadi Minuman Surga di Aceh

Kopi, Menjadi Minuman Surga di Aceh

Foto: Ilustrasi. ( Denni Risman/swamedium)

Banda Aceh, Swamedium.com — Aceh dan Kopi Itu ibarat Adam dan Hawa dalam kisah klasik baik di Islam, Nasrani maupun Yahudi. Selain itu ada ganja yang dianggap narkoba oleh negara dan diharamkan oleh sebagian ulama dan dimubahkan ulama lainnya.

Bicara Aceh juga bicara konflik vertikal yang menyeret konflik horizontal yang harusnya para aktornya dihukum bukan dijadikan Menteri dan Gubernur, Aceh lab pelanggaran HAM terberat yang hingga kini pelanggarnya masih berkhotbah tentang moral.

Para pakar pasti penasaran bercampur tak percaya rakyat Aceh masih mampu bangkit, melahirkan para pemikir, melahirkan para politisi, melahirkan para guru besar di Universitas. Jawaban-jawaban ilmiah pun dilontarkan melalui penelitian-penelitian sosial yang dilakukan ilmuwan dalam dan luar negeri.

Sebelumnya sekadar mengingatkan, tahun 2004 penulis sempat tenggelam oleh tarian Tsunami, sempat pula melihat tumpukan mayat manusia, artinya pasca konflik RI-GAM Aceh kembali diuji bencana alam pula. Lalu mengapa rakyat Aceh mampu kembali melanjutkan hidupanya, bahkan dalam kehidupan berdemokrasi Aceh satu-satunya Propinsi yang memiliki parlok. Aceh menjadi perintis Cagub/Cabup/Cawalkot jalur independen.

Setelah berpikir mendalam tanpa literatur atau bacaan dari para pakar ekonomi-sosbud, psikolog, penulis akhirnya menemukan jawaban yang subjektif, Aceh ternyata memiliki minuman surga, kita mengenalnya dengan sebutan kopi. Teman-teman dihalalkan gak percaya dengan jawaban itu, namun teman-teman diharamkan untuk tidak meneliti manfaat kopi bagi kawasan yang di sapa konflik dan bencana.

Saya percaya bahwa kopi adalah minuman perdamaian, minuman cinta, minuman Pancasila. Loh kok minuman Pancasila? Warung kopi di Aceh tak membatasi agama, suku, dompet, tampang, berbeda-beda tetap kopi minumannya.

Tradisi minum kopi selepas kerja atau bahkan di jam kerja sempat membuat seorang rektor protes, katanya itu budaya buruk, melalaikan, tentu pak rektor belum melakukan penelitian mendalam, sekedar asumsi yang emosional, budaya pola pikir fundamental dalam melihat sebuah fenomena.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)