Senin, 26 Oktober 2020

Pasca Penetapan HET Beras, Peran Bulog Dipertanyakan

Pasca Penetapan HET Beras, Peran Bulog Dipertanyakan

Foto. Harga beras di pasaran berfluktuasi naik sehingga pemerintah berkali-kali melakukan operasi pasar. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Pasca penetapan aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang mulai berlaku pada 1 September, peran Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai stabilisator pangan dipertanyakan oleh berbagai kalangan. Penetapan HET beras dinilai tidak perlu sebab Bulog punya kemampuan untuk melakukan intervensi.

Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jose Rizal Damuri, menyebutkan jika peran Bulog bisa dimaksimalkan, maka pemerintah tidak perlu menerapkan HET pada beras yang justru memberi dampak negatif ke petani.

“Artinya Bulog kan punya kemampuan intervensi. Nah, Bulog cara beli berasnya juga harus diubah,” kata Jose.

Dia menambahkan, jika sebelumnya Bulog harus mengajukan kredit ke bank untuk membeli beras, selanjutnya, pemerintah bisa memberikan Bulog anggaran khusus untuk menyerap beras petani.

Menurut Jose, cara lainnya adalah dengan menerapkan sistem impor terbatas atau impor dengan tarif tinggi dan bukan sistem kuota. “Menurut organisasi perdagangan dunia (WTO/World Trade Organization), kita bisa kok pakai tarif,” ungkapnya.

Penerapan impor tarif tinggi ini, kata Jose, sudah diterapkan di negara lain, seperti Filipina, Srilanka dan Bangladesh, sehingga harganya juga jadi lebih stabil.

Jose menilai, penetapan HET memang ditujukan supaya konsumen mendapatkan harga beli yang lebih stabil. Akan tetapi, hal ini juga berdampak kepada petani.

Bila harga akhirnya sudah diatur maka yang akan ditekan adalah harga ditingkat petani. Akibatnya, harga jual bisa jatuh atau paling pahit produksi tidak dilakukan dalam jumlah besar.

“Produsen beras akan lebih selektif beli beras. Dan harga padi itu kan berubah-ubah terus, nggak mungkin kan (pemerintah) fix (ini) terus-terusan,” jelasnya.

Di sisi lain, penetapan HET bakal memicu pasokan menipis di pasaran. “Bisa-bisa beras juga langka di tingkat konsumen kalau produsen nggak serap lagi,” kata Jose. (*/maida)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.