Minggu, 25 Oktober 2020

YLKI: Merchant ‘Haram’ Kenakan Biaya Tambahan Kartu Kredit

YLKI: Merchant ‘Haram’ Kenakan Biaya Tambahan Kartu Kredit

Jakarta, Swamedium.com – Masih banyak merchant atau pedagang yang mengenakan biaya tambahan sebesar 2-3% dari transaksi saat nasabah membayar menggunakan kartu kredit. Padahal, Bank Indonesia (BI) telah melarang adanya biaya tambahan kartu kredit lebih dari lima tahun lalu.

Membandelnya merchant atau pedagang itu disebabkan tidak ada sanksi tegas dari lembaga yang berwenang, khususnya BI. Biasanya, merchant beralasan yang mengenakan biaya tambahan itu bank, bukan dari pedagang. Dan, konsumen hanya bisa mengalah.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti kondisi tersebut. Pihaknya menyayangkan masih ada praktik semacam itu dilakukan oleh merchant semisal restoran, hotel, toko dan lain sebagainya.

Lagi-lagi yang dirugikan adalah konsumen. Sebab ketika konsumen membayar transaksi di merchant akan dikenakan biaya tambahan sebesar 3%, di luar biaya yang semestinya harus dia bayarkan.

“Sebenernya aturan dari Mastercard-nya dilarang, enggak boleh, cuma praktik lapangan mereka merchant masih melakukan itu,” kata Kepala Bidang Pengaduan YLKI Sularsi, Sabtu (9/9) yang dirilis oleh Okezone.

Padahal, kata dia, pihak merchant sudah memperoleh keuntungan dari transaksi yang dilakukan oleh pengguna kartu kredit. Keuntungan itu didapat dari bank yang kerja sama dengan merchant sesuai dengan perjanjian kerja sama kedua belah pihak.

“Mereka antara merchant dan bank ada perjanjian dan sudah mendapatkan persentase dari setiap transaksi yang dilakukan si nasabah. itu dilarang tapi dibiarkan,” paparnya.

YLKI menegaskan bahwa merchant dilarang memberikan beban pembayaran tambahan di luar nilai transaksi yang seharusnya dibayarkan oleh konsumen. Misalnya, jika konsumen membeli sesuatu yang nilainya Rp100.000, maka tidak boleh dikenakan pembayaran tambahan 3% atau Rp3.000.

“Merchant enggak boleh bebankan tambahan biaya ke nasabah, itu urusannya kerjasama merchant dan si pengeluar kartu, dalam hal ini bank atau lembaga non bank pengeluar kartu,” tandasnya. (*/maida)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.