Sabtu, 24 Oktober 2020

Audit Forensik Telkom atas Migrasi Ilegal 4,2 Juta Data Pelanggan

Audit Forensik Telkom atas Migrasi Ilegal 4,2 Juta Data Pelanggan

Foto: Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro. (ist)

Oleh: Gigih Guntoro

Jakarta, Swamedium.com — Sudah 2 minggu lebih sejak satelit Telkom 1 terkena anomali yang menyebabkan sejumlah layanan perbankan dan televisi terganggu secara nasional belum menemukan penyebabnya. Bahkan sampai pada batas recovery system yang pernah dijanjikan Telkom, layanan transaksi perbankan melalui ATM juga belum sepenuhnya optimal.

Hal ini memperlihatkan bahwa Telkom terkesan memperlambat dan selolah menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada satelit Telkom 1. Bahkan atas nama pelayanan Telkom telah berani melakukan migrasi data pelanggan sebesar 4,2 juta dari 17 juta pelanggan, satu tindakan kriminal yang dilegalkan dengan menabrak berbagai aturan hukum yang ada.

Dari peristiwa migrasi data pelanggan, patut diduga terjadi praktek-praktek kriminal dan rentan terjadinya tindak pidana korupsi. Janji dari dirut Telkom bahwa pada tanggal 10 bulan September ini kiranya sudah akan kembali normal.

Kekacauan yang berkaitan dengan Satelit Telkom 1 yang dibeli dari Loockheed Martin diduga dianggap menjadi biang keladi atas matinya ribuan ATM dan kantor kas perbankan di Indonesia.

Lockheed Martin
Sepanjang penelusuran Indonesian Club, Loockheed Martin adalah perusahaan raksasa asal negeri paman Sam yang telah berpengalaman bertahun-tahun dan banyak memproduksi satelit. Loockheed Martin bukan perusahaan sembarangan, dibelakang mereka sangat dimungkinkan adalah negara adidaya. Apakah mereka akan diam saja saat satelit telkom 1 dianggap atau diduga terjadi miring pada satelit, keluar orbit, hingga hancurnya satelit, walaupun pada akhirnya semua diklarifikasi Telkom? Apakah Loockheed Martin sebagai perusahaan produsen satelit raksasa Amerika segegabah itu? Tentu saja mereka memiliki hitungan-hitungan tertentu karena kredibilitas mereka sangat dipertaruhkan dalam hal ini.

Setahu kami, pembuatan satelit membutuhkan biaya yang sangat mahal, yang konsekuensi penggunaannya pastinya tidak hanya setahun-dua tahun yang kemudian kadaluwarsa. Pertanyaannya, mungkinkah satelit Telkom 1 A2100A itu hanya bisa beroperasional selama 15 tahun seperti yg di klaim kan dirut PT. Telkom beberapa waktu lalu? Atau hanya kontraknya yang hanya 15 tahun? Hal ini masih menjadi perdebatan publik, dan tim kami pun terus mendalami perihal ini.

Pages: 1 2 3 4 5

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.