Sabtu, 17 Oktober 2020

Hersubeno Arief : Menjaga Kewarasan Nalar Publik

Hersubeno Arief : Menjaga Kewarasan Nalar Publik

Oleh : Hersubeno Arief

Jakarta, Swamedium.com – Bagi kalangan aktivis masyarakat madani (civil society) pekan-pekan belakangan ini adalah hari yang super sibuk. Anda tinggal memilih mau menggarap dan melakukan advokasi isu apa. Semuanya ada.

Kalau mau melihat dari sudut pandang yang “positif,” Indonesia adalah negara yang kaya dan tepat untuk mengasah kepekaaan dan kewarasan nalar kita. Seperti judul lagu lama dari group band Koes Plus “ Tongkat dan batu jadi tanaman,” semua hal bisa kita semai, menjadi sebuah isu, pro atau menentang publik.

Mari kita inventarisasi beberapa isu yang berseliweran di media dan ruang publik kita. Pembasmian etnis Muslim Rohingya di Myanmar, sertifikat Pulau C dan D, Meikarta, kriminalisasi penulis dan aktivis media sosial, KPK, utang pemerintah, pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Silakan ditambahkan dengan berbagai isu lain yang bersifat lokal.

Coba perhatikan. Semua persoalan tadi bila kita cermati hanya bermuara pada satu hal, yakni soal pertarungan kekuasaan (power game). Secara sederhana bisa disebut, ujung-ujungnya soal Pilpres 2019. Soal Jokowi jadi presiden lagi atau tidak.

Ada yang memang benar-benar berkaitan dengan pilpres, tapi ada juga yang coba dihubung-hubungkan, ada pula yang hanya karena paranoid penguasa.

Politik di Indonesia diredusir menjadi hanya persoalan _who gets what, when and how_ (Laswell, 1936). Pembicaraan seputar politik hanya berkutat pada siapa dapat apa, kapan dan bagaimana caranya. Semua itu menjadi monopoli elit yang berkuasa bersama kroni—kroni dan para cukong politiknya.

Benar dalam demokrasi rakyat dilibatkan, namun hanya sebatas jelang pilkada, pileg atau pilpres. Setelah itu, proses politik, bagi-bagi kekuasaan berlangsung di belakang layar, di ruang tertutup. Rakyat tidak boleh tahu, dan kalau tahu, tidak boleh ikut bersuara. Dalam bahasa Ketua MPR Zulkifli Hasan, hak mereka telah diserahkan kepada para penguasa, melalui transaksi _money politics_. Jadi sudah lunas. Jangan ribut-ribut lagi.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.