Minggu, 25 Oktober 2020

Kesaksian Rohingya; Masuk ke Desa Pukul 3 Pagi, Militer Tembaki Warga

Kesaksian Rohingya; Masuk ke Desa Pukul 3 Pagi, Militer Tembaki Warga

Foto: Rahimol, pemuda Rohingya ini melihat sendiri militer Myanmar datang pukul 3 dinihari ke kampungnya, dan mulai menembaki warga.(Katie Arnold/Al Jazeera)

Dhaka, Swamedium.com— Pejabat Myanmar beralasan, orang-orang yang mereka tembaki adalah teroris ARSA, bukan penduduk. Kenyataannya, tentara Myanmar memang sengaja melakukan pembunuhan kepada warga muslim Rohingya.

“Saat itu jam 3 pagi ketika militer mulai menembaki senjata mereka di desa kami dan membakar rumah kami. Kami tidak bisa meninggalkan rumah karena jika mereka melihat kami mereka akan menembak, maka kami bersembunyi di dalam,” kata Rohimol Mustapha (22), warga Desa Foira, Negara Bagian Rakhine Myanmar kepada Al Jazeera.

“Akhirnya, mereka sampai di rumah kami dan mulai menembaki senapan mereka melalui jendela, sebuah peluru menabrak lututku. Banyak orang dari desa kami meninggal malam itu. Saya pribadi melihat tiga tetangga terbunuh,” tambahnya.

Oleh orangtua dan saudara laki-lakinya, Rohimol dibawa ke rumah sakit di Rakhine. Tapi pihak rumah sakit tidak mau menerimanya. Sehingga keluarganya melarikan dia ke perbatasan Bangladesh dengan melewati pegunungan untuk menghindari militer.

“Itu adalah perjalanan yang sangat panjang dan menyakitkan dan luka saya menjadi sangat terinfeksi. Saya merasa sangat sedih karena satu-satunya hal yang bisa dibawa keluarga saya adalah saya, kami meninggalkan segalanya.”

Di perbatasan Bangladesh, luka akibat tembakan yang mulai terinfeksi itu dirawat oleh tim medis dari MSF [Dokter Tanpa Batas, yang sering dikenal dengan inisial bahasa Prancis], sehingga nyawanya bisa diselamatkan.

Dalam kisah yang dimuat Al Jazeera itu, Rohimol bercerita dia adalah siswa madrasah. Sebagai siswa senior di madrasah, terkadang dia juga mengajar anak-anak yang lebih muda, karena minimnya tenaga pendidik di desanya.

Karena krisis ini, Rohimol terpaksa melupakan cita-citanya untuk bisa menjadi guru di Desa Foira, tempat dia dilahirkan dan dibesarkan

“Kami ingin pulang ke rumah dan kami menginginkan kedamaian. Saya percaya dunia menyaksikan krisis kami dan mereka berusaha membantu kami,” ucapnya saat berkisah di kamp penampungan baru Kutupalong dekat Cox’s Bazar, Bangladesh. (*/d)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.