Minggu, 25 Oktober 2020

Menteri Luhut Akan Jelaskan Soal Impor LNG Singapura Besok

Menteri Luhut Akan Jelaskan Soal Impor LNG Singapura Besok

Foto: Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan berjanji akan memberikan penjelasan terkait kabar penandatanganan kesepakatan pembelian gas alam cair atau LNG (Liquid Natural Gas) dengan pihak Singapura pada Rabu (13/9).

Menurut Luhut, perjanjian yang ditandatangani saat kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 6-7 September itu hanya pertukaran bisnis yang dilakukan antara Indonesia dengan Singapura. Dalam hal ini, Singapura menawarkan cadangan gasnya, sementara Indonesia akan menawarkan komoditinya. Namun, dia tidak menjelaskan komoditas apa yang akan ditukar dengan LNG Singapura tersebut.

“Nanti Rabu saya akan beri keterangan resmi. Tidak salah impor, itu hanya barter (swap). Nanti biar jelas supaya tidak tanya-tanya,” katanya seperti dikutip cnnindonesia.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR Ahmad M Ali menyesalkan keputusan pemerintah yang mengimpor LNG dari Keppel Offshore & Marine LNG, perusahaan Singapura.

“Jika memang benar ada kontrak impor LNG dengan Keppel, perusahaan Singapura, itu sangat disayangkan. Awalnya, kami mengira ini hanya sekadar rencana semata, mengingat besarnya kargo LNG kita yang tidak laku setiap tahunnya,” ujar dia.

Adapun, kontrak tersebut untuk pengadaan minyak dan gas demi pemenuhan kebutuhan energi listrik oleh PT PLN (Persero). Memang, harga bisa jadi pertimbangan pemerintah melakukan impor, lantaran perusahaan tersebut menawarkan harga sekitar US$3,8 per mmbtu.

“Mungkin, kalau logikanya Business to Business, bisa jadi cocok dengan harga itu karena memang terbilang murah. Tetapi, pemerintah harus ingat bahwa PLN adalah perusahaan negara yang seharusnya bisa saling mengisi dengan Pertamina, terutama dalam membeli kargo LNG dalam negeri,” terang dia.

Politisi Partai Nasdem tersebut menyebut, dalam menangani masalah energi, pemerintah tak bisa se-ala kadarnya saja. Apalagi, dalam kacamata bisnis mengandalkan peran Kartel dan broker. Semestinya, ada skema yang terpadu dan terintegrasi lewat road map (peta jalan) industrialisasi nasional.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.