Sabtu, 24 Oktober 2020

Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terancam Dicabut

Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terancam Dicabut

Foto: Penjaga perbatasan Bangladesh mengawasi tenda penampungan pengungsi muslim Rohingya di perbatasan. (Al Jazeera)

Jakarta, Swamedium.com — Hadiah Nobel Perdamaian yang didapat Aung San Suu Kyi terancam dicopot terkait kecaman dunia internasional terkait pembantaian etnis Muslim di Rakhine, Myanmar.

Menurut PBB, hampir 300.000 muslim Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak pembantaian oleh Militer Myanmar pada kaum minoritas itu dimulai lebih dari dua pekan yang lalu.

Seperti dilansir Aljazeera, Minggu (10/9), kejahatan kemanusiaan tersebut dimulai pada 25 Agustus setelah para pejuang Muslim Rohingya melakukan serangan balasan dengan menyerang pos polisi di Rakhine, di pantai barat Myanmar, hingga memicu sebuah tindakan keras militer.

Aung San Suu Kyi, konselor negara dan pemimpin de facto, pekan ini mengklaim bahwa situasi tersebut dipelintir oleh “gunung es kesalahan informasi yang sangat besar.”.

“Kami memastikan bahwa semua orang di negara kita berhak mendapatkan perlindungan atas hak-hak mereka dan juga hak untuk tidak hanya pertahanan politik tapi sosial dan kemanusiaan,” katanya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat melakukan pembicaraan telepon pada 5 September 2017.

Rohingya, yang sering digambarkan sebagai “minoritas paling teraniaya di dunia,” adalah kelompok etnis yang sebagian besar beragama Muslim, yang telah tinggal di wilayah mayoritas umat Buddha selama berabad-abad.

Saat ini ada sekitar 1,1 juta penduduk di negara Asia Tenggara itu, yang merupakan rumah bagi lebih dari 100 kelompok etnis dan sekitar 55 juta orang.

Aljazeera melaporkan, sejumlah tokoh tinggi secara terbuka mengkritik Aung San Suu Kyi, yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991 atas kampanyenya yang mendukung demokrasi di Myanmar, sehubungan dengan krisis tersebut.

Hampir semua pemimpin dunia bersatu mengutuk Aung San Suu Kyi, hanya beberapa saja menolak. Perdana Menteri India Narendra Modi, misalnya, menolak untuk berbicara dan malah menawarkan dukungannya kepadanya.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.