Sabtu, 17 Oktober 2020

Ranjau Darat Itu Banyak Makan Korban Muslim Rohingya

Ranjau Darat Itu Banyak Makan Korban Muslim Rohingya

Foto: Azizu Haque, bocah Rohingya sedang dirawat di rumah sakit Bangladesh. Kedua kakinya hancur terinjak ranjau darat. (bbc)

Dhaka, Swamedium.com — Aparat keamanan Myanmar dituding telah menanam ranjang di sepanjang tapal batas Myanmar dan Bangladesh. Akibatnya, banyak pengungsi muslim Rohingya yang kabur ke Bangladesh jadi korban.

Seperti dilaporkan BBC, sebuah rumah sakit di Bangladesh telah merawat sejumlah pengungsi muslim Rohingya. Rata-rata, mereka yang dirawat adalah korban akibat ledakan ranjau darat.

Ada seorang bocah Rohingya berusia 15 tahun sedang dirawat di rumah sakit di Bangladesh, kehilangan kedua kakinya.

Anak laki-laki berusia 15 tahun, Azizu Haque, tiba di sana dengan keadaan kakinya hancur. Saudaranya, di rumah sakit lain, mengalami nasib yang sama, kata ibunya.

“Luka mereka sangat buruk sehingga seolah-olah mereka sudah mati,” katanya kepada BBC.

“Lebih baik Allah mengambil mereka, karena mereka sangat kesakitan.”

Tubuh Azizu Haque hancur oleh ledakan: kakinya hilang, dan berbagai bagian tubuhnya juga terluka. Dokter tampak emosional saat dia berkisah tentang upayanya untuk menyelamatkannya – dia tidak berharap banyak. Azizu memiliki golongan darah yang langka, dan rumah sakit tidak memiliki bank darah, dan sudah kehabisan donor.

Seorang perempuan yang juga dirawat di rumahsakit itu, berkisah bahwa dia sendiri menginjak sebuah ranjau darat ketika ia dan keluarganya lari karena ditembaki.

Perempuan yang terluka tersebut, Sabequr Nahar, mengatakan bahwa dia melarikan diri dari Myanmar karena militer telah menyasar komunitasnya, dan dia sedang melintasi perbatasan bersama ketiga anaknya saat dia menginjak ranjau darat.

“Kami diberondong, ditembaki, dan mereka menanam ranjau,” kata perempuan berusia 50 tahun itu.

Di bangsal peremp;uan, Sabequr Nahar adalah sosok kecil yang kelelahan. Dia mengatakan bahwa saat melintasi perbatasan Myanmar, ia berjalan di belakang ketiga putranya yang lolos tanpa cedera.

Pada hari Minggu lalu, lembaga pemantau hak asasi manusia Amnesty International menuduh militer Myanmar menebarkan ranjau-ranjau darat di jalur perbatasan yang digunakan oleh warga Rohingya untuk melarikan diri.

Namun Myamar membantah telah menanam ranjau di perbatasan. Seperti diberitakan Reuter, sebuah sumber militer Myanmar mengatakan mereka memang memasang ranjau darat di sepanjang perbatasan pada tahun 1990-an. Namun, ranjau itu telah dibersihkan. Menurut sumber ini, tidak ada ranjau yang ditanam dalam beberapa hari ini. (bbc/d)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.