Minggu, 18 Oktober 2020

Halimah Yacob Jabat Presiden Singapura Setelah 47 Tahun Lepas dari Melayu

Halimah Yacob Jabat Presiden Singapura Setelah 47 Tahun Lepas dari Melayu

Foto: Halimah Yacob menjadi Presiden Singapura dari etnis melayu, setelah 47 tahun tidak dijabat oleh melayu. (ist)

Singapura, Swamedium.com — Jabatan Presiden Singapura kembali ke tangan melayu. Mantan Ketua Parlemen Singapura Halimah Yacob bakal dilantik jadi Presiden Singapura dalam sebuah aklamasi, karena tidak lolosnya dua kandidat lain.

Pemilu presiden Singapura sedianya digelar pekan kedua September 2017. Namun, lantaran Halimah menjadi kandidat tunggal, dia dipastikan jadi presiden tanpa pemungutan suara. Dua kandidat rival Halimah, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan gagal memenuhi syarat meski nominasi presiden resmi ditutup Rabu (13/9) ini.

Terakhir Presiden Singapura dijabat dari etnis melayu pada periode 1965-1970 oleh Yusof Ishak.

Kemudian jabatan presiden itu digilirkan kepada etnis India dan etnis China. Diantaranya
Benjamin Sheares (1971-1981), C. V. Devan Nair (1981-1985), Wee Kim Wee (1985-1993), Ong Teng Cheong (1993-1999), Sellapan Ramanathan (1999-2011), dan Tony Tan Keng Yam (2011-2017).

Mengenal Halimah

Halimah lahir 23 Agustus 1954. Dia pernah menjadi anggota People’s Action Party (PAP) atau Partai Aksi Rakyat – partai yang berkuasa di Singapura. Dia kemudian menjadi Ketua Parlemen dari Januari 2013 sampai Agustus 2017.

Pada tanggal 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Parlemen dan anggota PAP karena menjadi kandidat untuk pemilihan presiden Singapura 2017.

Sebelum menjadi ketua parlemen pada 2013, ia menjadi Menteri Negara Pengembangan Komunitas.

Seperti dilansir bbc, dalam blognya dengan tema “Do Good, Do Together” (Lakukan yang baik, Lakukan bersama), Halimah menceritakan latar belakangnya yang harus berjuang di tengah kemiskinan membuatnya bertekad maju.

“Saya mengalami kemiskinan dan tahu bahwa betapa sulitnya untuk berjuang mencari makan dan menghadapi ketidakpastian masa depan. Kondisi ini membatasi pilihan namun juga menghambat tekad untuk berhasil. Prioritas saya adalah menyelesaikan sekolah, mendapat kerja dan membantu ibu saya,” tulis Halimah.

Ia mengatakan mulai bekerja pada usia 10 tahun membantu ibunya yang bekerja di warung makanan nasi Padang, setelah ayahnya meninggal.

Halimah dididik di Singapore Chinese Girls’ School dan Tanjong Katong Girls’ School, sebelum melanjutkan ke University of Singapore di mana dia menyelesaikan gelar LLB (Bachelor Legum Of Law) pada tahun 1978.

Pada tahun 2001, dia menyelesaikan gelar LLM (The Master of Laws) di National University of Singapore, dan mendapat gelar Doktor Kehormatan dari National University of Singapore pada tanggal 7 Juli 2016.

Perempuan ini pernah bekerja sebagai praktisi hukum di Kongres Serikat Perdagangan Nasional pada tahun 1992. Dia ditunjuk sebagai direktur Institut Studi Ketenagakerjaan Singapura (sekarang dikenal sebagai Institut Studi Ketenagakerjaan Ong Teng Cheong) pada tahun 1999.

Halimah memasuki politik pada tahun 2001 saat dia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Konstituensi Perwakilan Jurong Group (GRC). Pada pemilu 2015, Halimah adalah satu-satunya calon minoritas untuk PAP.

Perempuan ini dikenal aktif berkampanye melawan kelompok Islam radikal. Dia kerap mengecam kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

”Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah, apakah ada pemilu atau tidak ada pemilu,” katanya, kemarin.

Tentang sistim pemilihan presiden di Singapura, Halimah berpendapat begini:

“Ini menunjukkan kami tak hanya bicara tentang multi ras, namun kami bicara dalam konteks meritokrasi (demokrasi berdasarkan merit) atau peluang untuk siapa pun dan kami menjalankannya,” kata Halimah kepada surat kabar The Straits Times.

Pemerintah Singapura menetapkan sistem pemilihan presiden – dengan menetapkan ras Melayu yang boleh ikut serta kali ini- untuk menjamin perwakilan tiga ras di negara itu, Cina, India dan Melayu. (*/d)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.