Minggu, 25 Oktober 2020

Ini Skema Pajak Baru Yang Dikenakan Kepada Profesi Penulis

Ini Skema Pajak Baru Yang Dikenakan Kepada Profesi Penulis

Foto. Menkeu Sri Mulyani revisi aturan pajak untuk kejar target penerimaan pajak yang baru tercapai 70%. (ist)

Jakarta, Swamedium.com – Protes atas besaran pajak penulis oleh Tere Liye membuahkan hasil. Dengan skema baru, sebesar 50% dari hasil penjualan buku akan dihitung sebagai biaya produksi dan 50% sisanya yang akan dijadikan sebagai obyek pajak.

Seperti diketahui, Penulis Tere Liye sebelumnya mengungkapkan, kekecewaannya atas pajak yang dinilai tidak adil untuk penulis. Padahal, penulis punya peran penting untuk mencerdaskan bangsa. Sehingga, dia sempat mengancam akan memutuskan kontraknya di beberapa perusahaan penerbit.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani langsung mengundang Tere Liye untuk berdiskusi soal pajak penulis. Hasilnya,
Menkeu mengatakan, pihaknya telah menentukan skema untuk menghitung pajak yang bakal dikenakan kepada penulis. Setelah berkomunikasi dengan penulis, kata Sri Mulyani, akhirnya disepakati bahwa 50 persen dari hasil penjualan yang diterima penulis akan dihitung sebagai biaya produksi. Sementara, 50 persen sisanya yang akan dijadikan sebagai objek pajak.

“Kalau untuk penulis, kita sudah komunikasi dan diskusi. Bagaimana kita hitung biaya mereka untuk menghasilkan tulisannya. Jadi disepakati, dari yang mereka hasilkan, 50 persen akan dihitung sebagai biaya mereka untuk menghasilkan tulisan,” ungkapnya di DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (12/9).

“Kalau dalam terima royaltinya, kemudian dikurangi 50 persen (sebagai biaya produksi), 50 persen sisanya akan menjadi objek pajak,” jelasnya.

Sri melanjutkan, jika dalam perhitungan, bagian 50 persen yang menjadi objek pajak dari penghasilan tersebut nilainya di bawah PTKP (Penghasilan Tak Kena Pajak), maka penulis akan dibebaskan dari keharusan membayar pajak.

“Kalau yang 50 persen yang menjadi objek pajak itu di bawah PTKP, dia tidak kena pajak sama sekali. Kalau volume penjualan bukunya tidak banyak sehingga royaltinya di bawah PTKP, dia tidak kena pajak, dibebaskan. Kalau di atas itu kemudian kena mulai dari 15 persen, 20 persen, kalau bukunya laku banget,” pungkasnya. (*/maida)

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.