Minggu, 25 Oktober 2020

ARSA: Suu Kyi Berbohong, Tidak Ada Al Qaeda di Rakhine

ARSA: Suu Kyi Berbohong, Tidak Ada Al Qaeda di Rakhine

Foto: Pemimpin ARSA mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk 'membela dan melindungi' muslim Rohingya yang sudah tertindas selama 75 tahun (ist)

Dhaka, Swamedium.com — Pemerintah Myanmar beralasan mereka melakukan penyerbuan di negara bagian Rakhine, untuk mengusir teroris yang dipersenjatai oleh Al Qaeda. Namun pernyataan itu dibantah oleh warga Rohingya.

Aziz Khan, seorang Rohingya yang tinggal di kota Maungdaw, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa militer dan pemerintah sipil “menakut-nakuti” dan “tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kelompok tersebut memiliki hubungan dengan kelompok teroris yang ditentukan”.

“Media telah mengunci pernyataan pemerintah bahwa orang-orang ini adalah teroris, ini adalah sebuah kebohongan, [Aung San] Suu Kyi (pemimpin de facto Myanmar) berbohong, begitu juga tentara, tidak ada al-Qaeda di Rakhine,” ujarnya seperti dimuat Al Jazeera, Kamis (14/9)

“Orang-orang ini tidak diperlengkapi dengan baik, yang mereka punya hanyalah tongkat, pedang dan senjata yang mereka ambil dari pos-pos militer. Tidak ada bom.”

Hal yang sama juga ditegaskan pimpinan Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA), Ataullah Abu Amar Jununi. Dalam sebuah pernyataan yang diedarkan lewat video, Jununi menegaskan organisasinya tidak berafiliasi dengan unsur teror apapun, juga tidak menerima dana dari organisasi lain”.

“Selama lebih dari 75 tahun terjadi berbagai kejahatan dan kekejaman yang dilakukan terhadap Rohingya. Oleh karena itu kami melakukan serangan 9 Oktober 2016 – untuk mengirim sebuah pesan bahwa jika kekerasan tidak dihentikan, kami memiliki hak untuk membela kita sendiri, ” katanya.

Arakan Rohingya Solidarity Army (ARSA), yang sebelumnya dikenal sebagai Harakatul Yakeen, pertama kali muncul pada bulan Oktober 2016 saat menyerang tiga pos polisi di kota Maungdaw dan Rathedaung, menewaskan sembilan petugas polisi.

Meskipun menghadapi penindasan selama bertahun-tahun, Rohingya yang sebagian besar Muslim sebagian besar telah menahan diri dari kekerasan.

Rohingya yang tinggal di kota Maungdaw mengatakan kepada Al Jazeera bahwa orang-orang itu, yang hanya berjumlah beberapa lusin, menyerbu pos-pos terdepan dengan tongkat dan pisau, dan setelah membunuh petugas, mereka melarikan diri dengan persenjataan ringan.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.