Sabtu, 24 Oktober 2020

Pernyataan Deputi UKP Pancasila, Menista Pancasila

Pernyataan Deputi UKP Pancasila, Menista Pancasila

Foto: Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) Drs. Anas Sandi (kedua dari kiri). (ist)

Oleh: Wildan Hasan*

Jakarta, Swamedium.com — Beberapa waktu lalu Deputi Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) Drs. Anas Sandi mengeluarkan pernyataan kontroversial. Anas menyatakan tentang:

1. Bolehnya atheis (tidak bertuhan) dengan alasan Tuhan tidak memaksa manusia untuk beragama dengan dalil Surat Al Baqoroh: 256
2. Bolehnya murtad selama tidak mengganggu ruang sosial. Dicontohkannya seperti orang yang murtad dengan tidak memprovokasi orang lain untuk anti agama.

Pernyataan pejabat UKP PIP tentu saja keliru dan menyesatkan ditinjau dari berbagai sisi di antaranya:

1. Tinjauan etika keilmuan. Sebagai orang yang bukan ahli agama (Ulama ahli Tafsir), Anas telah melanggar salah satu prinsip keilmuan yakni adab terhadal otoritas keilmuan. Para ulama adalah yang paling berhak untuk memahami syariat sesuai dengan kompetensinya yang khas di bidang agama terutama tafsir dari ajaran-ajaran agama. Bukan seorang Anas yang dari pijakan argumentasinya nampak jelas bukan seorang ahli agama. Setidaknya, sebagai awam semestinya Anas terlebih dahulu berkonsultasi dengan ahlinya terkait tafsir ayatul Qur’an sebagaimana Allah perintahkan dalam An Nahl: 43

2. Tinjauan syariat Islam. Kalimat “Laa ikraha fiddien” dalam ayat ke 256 surat Al Baqarah telah dijelaskan maknanya oleh para ulama ahli tafsir seperti Ibnu Katsir, At Thabari, Ash Shabuni dan lainnya bahwa makna “tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam” adalah karena sudah jelas mana kebenaran dan mana kebathilan sebagaimana Allah tegaskan dalam kalimat berikutnya setelah kalimat tsb “qad tabayyanar rusydu minal ghayyi.”

Kebenaran Islam sudah jelas dan kebatilan selain Islam juga sudah jelas. Sehingga manusia yang berhati bersih dan lapang akan mudah untuk memilih Islam sebagai keyakinannya. Karena menurut Ibnu Katsir, tidak ada manfaat masuk Islam dalam keadaan terpaksa.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.