Minggu, 25 Oktober 2020

Seminar Pembela PKI dan Pemerintah yang Ingin Menggebuk PKI

Seminar Pembela PKI dan Pemerintah yang Ingin Menggebuk PKI

Foto: Eko Ismadi (cendananews)

Oleh: Eko Ismadi*

Jakarta, Swamedium.com — Para pembela pengkhianatan Partai Komunis Indonesia, telah meradang kembali pada 2017. Pada Sabtu, 16 September 2017 besok, di Gedung LBH Jalan Diponegoro, LBH Jakarta dan segenap pembela PKI akan melakukan seminar dua hari dengan agenda untuk memutihkan kejahatan PKI di masa lalu.

Mereka ingin mengungkapkan “kebenaran versi pembela PKI” atas sejarah pengkhiatan PKI pada 1965 dan sebelumnya. Mereka telah menuduh ada pemalsuan dan manipulasi sejarah versi Orde Baru atas peristiwa 1965. Mereka ingin, sejarawan dan akademisi, aktivis sosial, serta korban/penyintas 65, mau mengikuti versi sejarah yang mereka seminarkan, bahwa PKI tidak bersalah. Mereka beralasan perlu adanya resolusi bagi pengungkapan kebenaran sejarah atas peristiwa1965.

Seminar LBH yang juga dihadiri Eks Tapol PKI itu akan membahas latar belakang permasalahan 65 (kontroversi 1948, kontroversi sebelum 1965), G30S/Gestok (kudeta dan tuduhan PKI makar, kudeta merangkak Suharto, berujung pada Supersemar), Sesudah 65 (kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida), serta bagaimana mencari terobosan penyelesaian dan KKR (Rehabilitasi, Rekonsiliasi, Reparasi dan lain-lain)

Saya merasa, di masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla ini, para pembela PKI itu seakan mendapat kesempatan untuk memutihkan kesalahannya. Pada tahun 2016 lalu, saya melihat, para pembela PKI tersebut ingin mengulangi perilaku, seperti yang pernah mereka lakukan dimasa lalu. Dalam amatan saya, ada eks tapol PKI yang mengatakan,”Masa pemerintahan Jokowi adalah masa yang tepat bagi kita.”

Secara terang-terangan, ada pernyataan putera dari DN AIDIT (Ketua Umum PKI di tahun 1965), bernama ILHAM AIDIT, ketika dua kali memberi pernyataan di ILC TV One dan Metro TV tanggal 28 Mei 2016. Secara terbuka, Ilham Aidit dengan lantang menyebut, ”44 TAHUN SAYA MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS SEBAGAI PUTERA AIDIT. BARULAH SEKARANG INI, SAAT YANG TEPAT. DAN DI PEMERINTAHAN JOKOWI, SAYA BERANI MENYEMATKAN NAMA AIDIT DI BELAKANG NAMAKU.”

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

1 Comment

  1. Anonim

    Saya mempelajari Marx di bangku kuliah (maklumlah, filsafat diwajibkan untuk mempelajari pemikiran beliau. Salah? TAP MPRS mengecualikan pendidikan bukan, bung?) dan entah mengapa saya sangat setuju dalam satu hal dengan anda. Komunis memang masih hidup, sampai kapan pun akan hidup. Karena itu adalah sebuah ideologi layaknya Pancasila.

    Tapi, saya tidak setuju dengan pendapat anda yang terlalu menyudutkan PKI. Saya akui, memang ada unsur-unsur dari PKI yang terlibat. Namun, bukan berarti kesuluruhan dari mereka bersalah ‘kan? Misalkan begini, ada satu orang di DPR yang korup, apakah serta merta kita dapat katakan seluruh orang-orang di DPR korup?

    Saya tidak mencoba membela PKI dan komunisme. Saya mencoba membela hak hidup ribuan orang yang mati hanya karena dituduh komunis dan antek-antek PKI tanpa dasar dan tanpa melalui proses hukum. Saya tahu, anda akan bilang, ‘saya juga hanya membela hak para jenderal yang mati dan tanpa melalui proses hukum. Mereka memang pantas dibinasakan’. Namun, apakah itu setimpal? Membunuh ribuan orang karena dendam? Anda pasti akan berdalih lagi, ‘alah, mereka juga membasmi ribuan orang tak bersalah di Madiun’. Namun, itu tidak serta merta membuat TNI jauh lebih baik. Kemana Aktivis yang hilang? Mengapa rakyat yang belum tentu bersalah di bunuh karena asas praduga tak bersalah bahwa mereka bagian PKI dan komunis?

    Ingat bung, PKI akan selalu 6 dan anda akan selalu 9. Dan orang-orang seperti itulah yang justru berbahaya, melihat sesuatu hanya dari satu sisi. Filosofi koin, ketika anda melihat sisi yang satu, maka sisi yang lain akan tertutup. Karena, semua orang benar menurut versi mereka masing-masing.

    Salam.

    Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.