Minggu, 25 Oktober 2020

YLKI: Aturan Biaya Top-up Uang Elektronik Rugikan BI dan Nasabah

YLKI: Aturan Biaya Top-up Uang Elektronik Rugikan BI dan Nasabah

Jakarta, Swamedium.com – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menolak pengenaan biaya top up uang elektronik atau e-money. Pengenaan biaya top up itu dinilai tidak adil bagi konsumen sekaligus kontraproduktif dengan upaya BI yang sedang gencar mewujudkan cashless society.

Seperti diketahui BI sedang gencar mewujudkan gerakan masyarakat tanpa uang tunai (cashless society). Yaitu, masyarakat yang dalam transaksi keuangannya tidak lagi menggunakan uang tunai, tetapi sudah dalam bentuk kartu, baik berupa kartu kredit, kartu debit, maupun cash card.

Begitupun, dalam melakukan pembayaran kewajiban kepada pihak lain, semua dilakukan dengan cara elektronik, baik dalam bentuk internet banking, transfer melalui ATM, maupun phone/SMS banking.

Ketua Pengurus Harian Tulus Abadi bahkan dengan tegas meminta BI untuk tidak merestui usulan perbankan tersebut. Apalagi, saat ini BI tengah menggalakkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Salah satu upaya dalam peningkatan keamanan dan pelayanan transaksi ini adalah dengan menggunakan e-money.

“Namun, menjadi kontra produktif jika Bank Indonesia justru mengeluarkan peraturan bahwa konsumen dikenakan biaya top up pada setiap uang elektroniknya, e-money. Secara filosofis apa yang dilakukan BI justru bertentangan dengan upaya mewujudkan cashless society tersebut,” kata Tulus dalam keterangannya kepada media, Sabtu (16/9).

Menurut Tulus, adanya pengenaan biaya top up ini, perbankan lebih diuntungkan daripada konsumen. Sesuai konsep, maka perbankan akan mendapat setoran uang dari konsumen, padahal belum tentu konsumen sebagai pemilik e-money melakukan transaksi.

“Sungguh tidak fair dan tidak pantas jika konsumen justru diberikan disinsentif berupa biaya top up. Justru dengan model e-money itulah konsumen layak mendapatkan insentif, bukan disinsentif,”jelas dia.

Dia juga menyarankan, seharusnya perbankan tidak menjadikan e-money sebagai basis mendapatkan keuntungan. Selama ini, pengguna e-money adalah masyarakat menegah ke bawah. Jelas hal ini akan membebani.

Pages: 1 2

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.