Sabtu, 17 Oktober 2020

Banyak Utang, Pemerintah Harus Cermati Kepemilikan Aset Asing

Banyak Utang, Pemerintah Harus Cermati Kepemilikan Aset Asing

Utang besar harus dikelola hati-hati sebab berisiko terhadap penguasaan aset nasional. (nael)

Jakarta, Swamedium.com – Jumlah utang pemerintah pusat yang semakin meningkat dengan nilai mencapai ribuan triliun rupiah mengkhawatirkan masyarakat. Sebab, semakin besar utang maka risikonya juga semakin besar, diantaranya adalah potensi penguasaan aset nasional oleh asing.

Hingga akhir Agustus 2017, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp 3.825,79 triliun, atau naik sebanyak Rp 45,81 triliun dari Juli 2017.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, Jumat (22/9), penambahan utang berasal dari penarikan pinjaman sebesar Rp 2,87 triliun (neto) dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 42,94 triliun (neto).

Menanggapi hal itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, pemerintah harus memperhatikan risiko utang tersebut dengan pengelolaan yang hati-hati.

“Jadi yang perlu dicermati pemerintah adalah porsi kepemilikan asing yang semakin dominan. Itu tidak sehat,” kata Bhima yang dirilis kumparan.com, Jumat (22/9).

Terkait utang tersebut, pemerintah selalu mengklaim jika porsi utang Indonesia masih sehat. Dengan menggunakan asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) dalam APBN-P 2017 sebesar Rp 13.613 triliun, maka rasio total outstanding utang pemerintah telah mencapai 28,1% terhadap PDB.

Jumlah itu hampir mendekati target rasio utang pemerintah dalam APBN-P 2017 yang mencapai 28,9% terhadap PDB. Namun, jika dibandingkan negara lain, rasio utang Indonesia memang masih lebih rendah. Brasil misalnya rasio utang terhadap PDB 81,2% atau Jepang yang mencapai 200%.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan, memastikan pemerintah akan mengelola utang dengan hati-hati dan terukur. Termasuk, menjaga risiko pembiayaan kembali, risiko tingkat bunga, dan risiko nilai tukar dalam posisi terkendali.

Menurut Bhima, risiko pada utang tidak semudah membandingkan jumlah utang terhadap PDB atau rasio utang. Di Jepang misalnya, kata dia, surat utangnya didominasi dimiliki warganya sendiri. Sementara di Indonesia, kepemilikan asing terhadap surat utang mencapai 40,3%.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.