Minggu, 25 Oktober 2020

Bung Hatta, Pancasila dan PKI

Bung Hatta, Pancasila dan PKI

Foto: Dr Adian Husaini, peneliti INSISTS. (voa-islam)

Oleh: Dr. Adian Husaini*

Jakarta, Swamedium.com — Pada Januari, 1966, penerbit Angkasa Bandung menerbitkan sebuah buku kecil (hanya 16 halaman), karya Mohammad Hatta (Bung Hatta), berjudul “Pancasila Jalan Lurus” (Ejaan disesuaikan EBI). Bung Hatta membuka tulisannya dengan ungkapan: “Sejak percobaan merebut kekuasaan negara oleh Gestapu/PKI gagal dan ABRI bersama-sama dengan ormas-ormas golongan agama dan nasional bertindak bahu-membahu untuk mengikis gerakan PKI sampai ke akar-akarnya, banyak terdengar suara yang menyatakan kekuatirannya bahwa “Revolusi akan menyeleweng ke kanan.”

“Benarkah pendapat itu?” Bung Hatta bertanya, dan menjawab sendiri pertanyaanya: “Revolusi Indonesia yang dicetuskan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, yang disemangati oleh Pancasila, tidak mengenal jalan kanan dan jalan kiri, hanya mengenal jalan lurus yang diridhai Tuhan Yang Maha Esa.”

Menurut Bung Hatta, tujuan Revolusi Indonesia itu ialah memerdekakan Indonesia dari genggaman imperialisme dan kolonialisme segala macam, baik politik dan ekonomi maupun ideologi, dan membangun Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Tujuan itu diakui oleh Bung Hatta merupakan tugas yang teramat berat. Untuk itulah, tulis Sang Proklamator, “… bangsa kita memerlukan bimbingan dari Yang Maha Kuasa. Itulah sebabnya maka negara kita berdasarkan Pancasila.”

Bung Hatta mengingatkan kembali akan komitmen para pemimpin rakyat Indonesia yang dengan ikhlas mengakui: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Karena itulah, Bung Hatta mengajak bangsa Indonesia agar jangan mempermainkan Pancasila, dan hanya menggunakan Pancasila sebagai “lip service” saja. Kata Bung Hatta: “Pengakuan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam artinya, tidak dapat dipermain-mainkan. Tidak saja berdosa, sebagai manusia kita menjadi makhluk yang hina, apabila kita mengakui dengan mulut dasar yang begitu tinggi dan suci, tetapi di hati tidak dan diingkari dengan perbuatan.”

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.