Minggu, 25 Oktober 2020

Utang Pemerintah untuk Pembiayaan Infrastruktur Dinilai Sudah Mengkhawatirkan

Utang Pemerintah untuk Pembiayaan Infrastruktur Dinilai Sudah Mengkhawatirkan

Foto: Anggota Komisi V DPR RI Moh Nizar Zahro. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Moh Nizar Zahro mengingatkan Pemerintah Indonesia khususnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar mengurangi ambisinya dalam pembangunan sejumlah infrastruktur di Indonesia saat ini.

“Presiden Jokowi harus mengerem ambisinya untuk membangun infrastruktur,” kata Nizar, Kamis (21/9).

Sebab, lanjutnya, langkah pemerintah yang menjadikan utang sebagai pembiayaan sejumlah proyek infrastruktur sudah dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan.

Karena itu, kata Nizar, jika utang terus membengkak maka akan membahayakan keberlangsungan negara di masa yang akan datang.

“Faktanya negara mengalami kesulitan likuiditas sehingga tidak pantas menggenjot ambisi dengan memakai dana utang,” tukasnya.

Nizar yang juga anggota Komisi V DPR RI itu menilai, Jokowi terlalu bernafsu dalam membangun pelabuhan (tol laut), bandara, jalan, jalur kereta, waduk, irigasi, hingga pembangkit listrik. Semua itu, dia taksir memakan biaya sebesar Rp.5.000 triliun dalam lima tahun perencanaan.

Politikus dari fraksi Gerindra itu juga mengingatkan agar pemerintah dapat berhati-hati dalam mengelola keuangan negara, jangan mudah memutuskan untuk berutang. Alangkah lebih baik melakukan efisiensi dan penggenjotan pemasukan negara.

“Karena, jika pemerintah gagal menggenjot pajak, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan melelang aset-asetnya,” sebut dia.

Ketika Indonesia melelang aset badan usaha milik negara (BUMN) nya untuk membayar utang, Nizar menegaskan pada saat itulah fenomena krisis 1998 kembali terulang.

“Jangan sampai negara jatuh ke dalam kubangan utang yang mematikan. Kasihan rakyat jika negara harus mengalami krisis ekonomi sebagaimana yang terjadi di tahun 1998,” pungkasnya. (*/ls)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.